Home / Literasi & Opini

Jumat, 20 Agustus 2021 - 08:40 WIB

Analisis Pengaruh Kemampuan Membaca Al-Qur’an dengan Kemampuan Matematis Mahasiswa Tadris Matematika IAIN Bengkulu

Abelia Erja Sari

Abelia Erja Sari

1Abelia Erja Sari, 2Mela Aziza

Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

1abelliaerja@gmail.com , 2mela.aziza@iainbengkulu.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca al-Qur’an, kemampuan matematis, dan menganalisis pengaruh kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematisnya.  Jenis metode  penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan subjek penelitian mahasiswa Tadris Matematika IAIN Bengkulu angkatan 2018 sebanyak 25 orang sebagai responden. 

Teknik pengumpulan datanya yaitu menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis datanya menggunakan analisis deskriptif persentase untuk mengkaji variabel yang ada pada penelitian serta mengetahui kemampuan membaca al-Qur’an dan kemampuan matematis mahasiswa. Untuk menganalisis pengaruh kedua variabel diatas, digunakan rumus korelasi product moment untuk menganalisis pengaruh akhir sekaligus menguji hipotesis berdasarkan variabel yang telah ditentukan.

Dari analisis yang dilakukan, peneliti memperoleh nilai rxy = 0,173 kemudian dikonsultasikan dengan tabel r product moment dengan nilai N = 25 dan diperoleh nilai r taraf signifikan 5% sebesar 0,396. Sehingga diketahui bahwa nilai rxy < rt yang menunjukan tidak ada pengaruh yang signifikan pada kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematis mahasiswa tadris matematika.

Kata Kunci : Kemampuan membaca al-Qur’an, Kemampuan Matematis.

PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan salah satu kitab yang dijadikan petunjuk terutama bagi umat islam yang didalamnya memuat banyak ajaran dan perintah, salah satunya yaitu perintah untuk menuntut ilmu pengetahuan. Bukan hanya perintah dan ajaran, didalam al-Qur’an Allah SWT menjanjikan kepada setiap umatnya akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu lebih tinggi serta diberikan kebajikan yang banyak. Seperti dalam firman Allah SWT berikut ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:

“Hai orang-orang beriman! apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Mujadalah : 11)

Ada banyak pendidikan yang bersumber didalam al-Qur’an dan hadits, salah satunya yaitu ilmu matematika. Dalam surah al-Alaq (96) ayat 1-5 Allah memerintahkan kepada setiap umat manusia untuk membaca. Juga terdapat didalam surah al-Ghasyiyah (88) ayat 17-20 yang jika maknanya diresapi, menjelaskan bahwa anjuran dalam menuntut ilmu pengetahuan dengan seluas-luasnya dengan riset terhadap alam semesta. Ilmu pengetahuan memang begitu penting bagi dunia, tetapi jangan sampai meninggalkan ilmu akhirat. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah sebai berikut.

                        وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya:

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan“. (QS. Al-Qosos: 77).

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita agar memanfaatkan nikmat dunia yang Allah berikan, untuk meraih kemuliaan akhirat  dan dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa yang pelajari bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang akhirat.

Seperti yang dikatakan oleh (Hasri & Rahma, 2016) bahwa mengingat matematika sangatlah penting bagi kehidupan manusia, maka pembelajaran bukan hanya terfokus pada penguasaan matematika melainkan juga perlu pembelajaran al-Qur’an terkhusus untuk Perguruan Tinggi Agama Islam. Karena waktu dan sarananya dibatasi, maka materi tentang pembelajaran al-Qur’an pun juga dibatasi. Pada  program studi matematika hanya sedikit yang memiliki kemampuan membaca al-Qur’an dibandingkan dengan mahasiswa yang ada di program studi Pendidikan Agama Islam.

Berdasarkan pengamatan yang didapat selama ini, kemampuan membaca al-Qur’an pada mahasiswa tadris matematika tidak ekuivalen terhadap kemampuan matematis yang dimilikinya. Seharusnya, kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematisnya harus sebanding karena matematika berkaitan erat dengan al-Qur’an. Dari hasil pengamatan ini, maka peneliti akan mencoba mengangkat masalah ini menjadi objek pembahasan penelitian dengan maksud untuk menganalisis pengaruh kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematis mahasiswa Tadris Matematika.

LANDASAN TEORI

Matematika adalah salah satu pembelajaran yang bersifat universal dan berguna bagi kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak perna lepas akan peranan matematika. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, memajukan daya pikir manusia, dan mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu (Yulianti, dkk, 2010). Masyarakat banyak menganggap bahwa matematika adalah pembelajaran yang sulit dan menakutkan (Widyana, 2016). Pendidikan matematika selama  ini sebenarnya belum mencapai pemahaman pembelajaran terbaik bagi siswa, rasa takut yang diterima siswa lebih besar sehingga beranggapan bahwa matematika adalah pembelajaran yang sukar dipahami, dan pembelajaran yang membosankan (Marpaung, 2003). Padahal, matematika memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kemampuan berpikir logis, sistematis, dan analitis. Sehingga tidaklah mengherankan jika kedudukan matematika dalam cabang ilmu pengetahuan berada pada posisi yang tinggi, karena matematika akan mendasari kemampuan pemahaman atau berpikir seorang pelajar pada mata pelajaran yang lain.

Sama halnya dengan pembelajaran al-qur’an sama-sama penting dalam kehidupan selanjutnya. Bukan hanya kemampuan matematis yang diperlukan, akan tetapi ada baiknya jika kita menyeimbangkan kemampuan matematis dan kemampuan membaca al-qur’an yang kita miliki.

Yang termasuk ke dalam kemampuan matematis antara lain dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kemampuan Penalaran Matematika
  2. Kemampuan Penalaran Induktif
  3. Kemampuan Pemahaman Matematika
  4. Kemampuan Koneksi Matematik
  5. Kemampuan Komunikasi Matematika
  6. Kemampuan Berpikir Analitis
  7. Kemampuan Berfikir Kreatif
  8. Kemampuan Analogi Matematika ( Hasri & Rahma, 2016)

Seperti yang diketahui bahwa al-Qur’an merupakan petunjuk dan ada begitu banyak ilmu pengetahuan yang ada didalamnya salah satunya adalah pembelajaran matematika. Matematika juga sama pentingnya untuk melanjutkan perkembangan saat ini. Dizaman milenial ini, banyak yang belum mengetahui bahwa matematika sebenarnya sudah dijelaskan dalam al-Qur’an secara terperinci.

METODE PENELITIAN

Metode berarti suatu jalan yang dilakukan untuk mencapai tujuan (Ismail, 2008). Sedangkan penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (Syaodih, 2010). Dalam bukunya  (Sugiyono, 2009) menjelaskan  bahwa penelitian terbagi atas penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang akan digunakan kali ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.

Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme yang digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan datanya menggunakan instrumen penelitian, analisis data yang bersifat kuantitatif/ statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2018). Dan penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain (Sugiono, 2018). Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian deskriptif kuantitatif merupakan data yang diperoleh dari sampel populasi penelitian yang dianalisis sesuai dengan metode statistik yang digunakan. Penelitian deskriptif ini digunakan untuk mendapatkan gambaran dan keterangan-keterangan mengenai respon mahasiswa tadris matematika IAIN Bengkulu.

Baca Juga  Dokter d'Lois

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2007). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari subjek atau objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi juga bukan hanya sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari melainkan meliputi semua karakteristik yang dimiliki subjek atau objek yang diteliti (Sugiono, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa tadris matematika  semester 4 di IAIN Bengkulu. Sampel yang akan digunakan sebanyak  25 mahasiswa sebagai responden.

(Widyawati, 2016) mengatakan variabel dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikatnya (x) yaitu kemampuan matematis yang dimiliki oleh mahasiswa dilihat dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan variabel bebasnya (y) adalah kemampuan membaca al-Qur’an yang dilihat dari nilai tahsin dan tahfidz.

Teknik dalam pengumpulan datanya yaitu menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan transkip nilai mahasiswa yang didalamnya termuat data IPK mahasiswa dalam kemampuan matematis dan data kemampuan membaca al-Qur’an yang dimiliki mahasiswa melalui transkip nilai tahsin dan tahfidznya, sedangkan metode wawancara digunakan untuk mengkonfirmasi analisis hasil dari dokumentasi yang telah didapat sebelumnya.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif persentase. Metode ini digunakan untuk mengkaji variabel yang ada pada penelitian. Dalam penelitian ini, yang menggunakan rumus persentase adalah menentukan kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa dan kemampuan matematis mahasiswa. rumus presentase sebagai berikut:

P =  x 100%

Keterangn:

P : Presentase

F : Frekuensi nilai

N : Jumlah responden (Sudjana, 2001)

 Dan untuk menganalisis pengaruh akhir sekaligus menguji hipotesis berdasarkan variabel yang telah ditentukan, teknik analisis yang digunakan adalah teknik korelasi product moment. Rumus korelasi product moment adalah sebagai berikut:

rxy  =

Keterangan:

rxy : koefisien korelasi  antara x dan y

xy : perkalian x dan y

x  : variabel kemampuan

      membaca al-qur’an

y  : variabel kemampuan

       matematis

N : jumlah sampel yang diteliti

ℇ  : sigma atau jumlah (Sudjana, 2001)

Hasil analisis deskriptifnya berupa gambaran mengenai pengaruh kemampuan membaca al-Qur’an yang dicapai mahasiswa dan kemampuan matematis mahasiswa program studi tadris matematika IAIN Bengkulu. Dari hasil analisis tersebut, disimpulkan hasil perolehan kemampuan membaca  al-Qur’an mahasiswa berada pada kategori sangat baik, baik, cukup, atau bahkan kurang, serta pengaruhnya terhadap kemampuan matematisnya.

Adapun indikator kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa dilihat dari transkip nilai tahsin dan tahfidz yang dicapai oleh mahasiswa selama ini. Namun demikian, mahasiswa harus tetap berusaha dalam mengasah kemampuan matematis dan menjaga kemampuan itu dengan membiasakannya dalam aktifitas sehari-hari. Karena tanpa pembiasaan, maka kemampuan itu tidak ada artinya sama sekali. Apalagi hal ini berkaitan dengan keislaman dan keimanan seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri terutama IAIN Bengkulu.

HASIL dan PEMBAHASAN

Kemampuan Membaca al-Qur’an

Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam membaca al-Qur’an, maka peneliti mengumpulkan transkip nilai tahsin dan tahfiz yang telah diterima dari responden menggunakan dokumentasi berupa screenshot transkip nilai mahasiswa. Hasil kemampuan membaca al-Qur’annya dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1

 Transkip Data Nilai Tahsin dan Tahfiz Mahasiswa Tadris Matematika Angkatan 2018

NO RespondenNilai TahsinNilai TahfizNilai Rata-rata
184,8080,8082,80
281,6080,0080,80
381,0080,0080,50
482,1080,0081,05
583,0081,0082,00
680,1976,8078,50
783,9080,0081,95
880,1074,2077,15
981,6076,8079,20
1081,1080,0080,55
1181,8080,0080,55
1270,0070,4070,20
1370,0075,0072,50
1473,0075,0074,00
1575,0075,0075,00
1680,0080,0080,00
1781,8080,0080,90
1881,8080,0080,90
1973,0075,0074,00
2083,0081,8082,40
2175,0080,0077,50
2275,0075,0075,00
2373,0074,2073,60
2470,0073,0071,50
2575,0075,0075,00

Dari data pada tabel 1 diatas, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata tertingginya adalah 82,80 dan nilai rata-rata terendahnya adalah 70,20.

Untuk menentukan skala tingkatan kemampuan membaca al-Qur’an, maka ditempuh jalan penentuan lebar interval dan mengklarifikasi ketegori tinggi, sedang dan rendah. Penentuan lebar interval menggunakan rumus sebagai berikut:

i =

Keterangan :

i     : Interval

Nt : Nilai tertinggi

Nr : Nilai terendah

Ki : Kelas interval

Berdasarkan rata-rata nilai terendah dan  rata-rata nilai tertinggi pada hasil transkip nilai kemampuan membaca al-Qur’an, maka lebar intervalnya adalah :

i =

  =

  =

  = 4,53

Kemudian dari nilai rata-rata dan lebar interval tersebut dikategorikan menjadi nominasi tinggi, sedang dan rendah dengan rentang sebagai berikut:

  • Nominasi A (tinggi) dengan rata-rata nilai  79,28 – 83,81
  • Nominasi B (sedang) dengan rata-rata nilai  74,74 – 79,27
  • Nominasi C (rendah) dengan rata-rata nilai  70,20 – 74,73

Setelah dibagi nominasi setiap rata-rata nilai, maka langkah selanjutnya adalah mempresentasekan dengan rumus sebagai berikut:

P =  x 100%

Untuk kategori nilai nominasi A sebanyak 12 mahasiswa maka nilai presentasenya adalah:

 x 100% =  48 %

Untuk kategori nilai nominasi B sebanyak 7 mahasiswa maka nilai presentasenya adalah:

 x 100% =  28%

Untuk kategori nilai nominasi C sebanyak 6 mahasiswa maka nilai presentasenya adalah:

 x 100% = 24%

Dari hasil perhitungan presentase maka didapat tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2

Presentase Kemampuan Membaca Al-Qur’an

NOTingkat kemampuan membaca al-Qur’anIntervalJml. responden%
1Tinggi79,28-83,811248%
2Sedang74,74-79,27728%
3Rendah70,20-74,73624%
Jumlah25100%

Kemampuan Matematis

Untuk mengetahui kemampuan matematis mahasiswa, peneliti mengumpulkan transkip nilai aljabar elementer dan aljabar linear. Alasan penulis mengambil nilai matematis di mata kuliah aljabar adalah karena mata kuliah aljabar elementer dilaksanakan bertepatan dengan pelaksanaan mata kuliah tahsin dan tahfiz yaitu pada semester 1. Sehingga peneliti bisa melihat perkembangan hasil nilai matematisnya pada mata kuliah aljabar linear di semester berikutnya. Jadi, dengan diambilnya mata kuliah ini bisa dilihat perkembangan apakah berpengaruh antara kemampuan pembelelajaran membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematis mahasiswa. Penyajian hasil perolehan nilai matematis mahasiswa tadris matematika akan disajikan dalam tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 3

Transkip Data Nilai Aljabar Elementer dan Aljabar Linear Mahasiswa Tadris matematika angkatan 2018

N0 RespondenNilai A. ElementerNilai A. LinearNilai Rata-rata
180,0083,8081,90
280,0077,0078,50
380,0086,0083,00
480,0093,6086,80
580,0071,5075,75
680,0079,0079,50
780,0090,2085,10
880,0074,4077,20
980,0081,0080,50
1080,0088,0084,00
1180,8080,5080,65
1281,1087,5084,30
1379,2080,5079,85
1478,8075,2077,00
1580,3084,7082,50
1682,0081,7081,85
1778,6080,1079,35
1882,2093,0087,60
1973,0078,5075,75
2080,2084,4082,30
2179,0081,0080,00
2278,1080,1079,10
2380,2080,3080,25
2480,5080,1080,30
2581,6093,8087,70

Berdasarkan data pada tabel 3 diatas, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata tertingginya adalah 87,70 dan nilai rata-rata terendahnya adalah 75,75.

Langkah awalnya adalah menghitung lebar interval dan mengklarifikasi nominasi menjadi kategori tinggi, sedang dan rendah menggunakan rumus sebagai berikut:

i =

Keterangan :

i     : Interval

Nt : Nilai tertinggi

Nr : Nilai terendah

Ki : Kelas interval

Berdasarkan rata-rata nilai terendah dan rata-rat nilai tertinggi pada transkip nilai aljabar elementer dan aljabar linear maka lebar intervalnya adalah:

Baca Juga  Rossi Lebih dari Sekedar Legenda Moto GP

i =

  =

  =

  = 4,31 (dibulatkan menjadi 4,00)

Kemudian dari nilai rata-rata dan lebar interval diatas, maka dapat dikategorikan menjadi nominasi sebagai berikut:

  • Nominasi A (tinggi) dengan rata-rata nilai  83,77 – 87,77
  • Nominasi B (sedang) dengan rata-rata nilai  79,76 – 83,76
  • Nominasi C (rendah) dengan rata-rata nilai  75,75 – 79,75

Jika telah didapat nominasi setiap individu, maka langkah berikutnya adalah mempresentasekan dengan rumus sebagai berikut:

P =  x 100%

Untuk kategori nilai nominasi A sebanyak 7 mahasiswa maka nilai presentasenya adalah:

 x 100% =  28 %

Untuk kategori nilai nominasi B sebanyak 10 mahasiswa maka nilai presentasenya adalah:

 x 100% =  40%

Untuk kategori nilai nominasi C sebanyak 8 mahasiswa maka nilai presentasenya adalah:

 x 100% = 32 %

Dari hasil perhitungan kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa maka didapat hasil pada tabel 4 berikut:

Tabel 4

Presentase Kemampuan Matematis Mahasiswa

NOTingkat kemampuan matematisIntervalJml. Respon den%
1Tinggi83,77-87,77728%
2Sedang79,76-83,761040%
3Rendah75,75-79,75832%
Jumlah25100%

Pengaruh Kemampuan Membaca al-Qur’an dengan Kemampuan Matematis

Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Analisis data adalah langkah yang dilakukan untuk membuktikan hipotesis yang telah diajukan dengan cara mengklarifikasi data sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk mengetahui kemampuan membaca al-Qur’an dan kemampuan matematis mahasiswa tadris matematika menggunakan rumus presentase dan untuk menganalisis pengaruh kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematis mahasiswa tadris matematika menggunakan teknik korelasi product moment.

Sebelum menggunakan rumus korelasi product moment, peneliti akan menyajikan tabel 5 sebagai tabel kerja untuk mencari koefisien korelasi antara variabel x (kemampuan membaca al-Qur’an) dengan variabel y (kemampuan matematis). Tabel kerja koefisien korelasinya adalah sebagai berikut:

Tabel 5

Tabel Kerja Untuk Mencari Koefisien Korelasi antara Variabel x dengan Variabel y

NOxyx^2y^2Xy
182,881,96855,846707,616781,32
280,878,56528,646162,256342,8
380,5836480,2568896681,5
481,0586,86569,17534,247035,14
58275,7567245738,066211,5
678,579,56162,256320,256240,75
781,9585,16715,87242,016973,945
877,1577,25952,125959,845955,98
979,280,56272,646480,256375,6
1080,55846488,370566766,2
1180,5580,656488,36504,426496,3575
1270,284,34928,047106,495917,86
1372,579,855256,256376,025789,125
147477547659295698
157582,556256806,256187,5
168081,8564006699,426548
1780,979,356544,816296,426419,415
1880,987,66544,817673,767086,84
197475,7554765738,065605,5
2082,482,36789,766773,296781,52
2177,5806006,2564006200
227579,156256256,815932,5
2373,680,255416,966440,065906,4
2471,580,35112,256448,095741,45
257587,756257691,296577,5
19482031152063165229158252,7

Dari tabel diatas didapat:

N            : 25

ℇx          : 1947,55

ℇy          : 2030,75

ℇx2                  : 152063,4

ℇy2                  : 165228,9

ℇxy        : 158252,7

Jika tabel telah tersedia dan diketahui nilai antara variabel x, y, x2, y2 dan xy maka langkah selanjutnya adalah mencari rxy dengan menggunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut:

rxy  =

rxy  = 

rxy  =          

rxy  =           

rxy  =          0,173

Setelah data dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi product moment dan diperoleh rxy = 0,173 kemudian dikonsultasikan dengan tabel r product moment dengan nilai N = 25 dan diperoleh nilai r taraf signifikan 5% sebesar 0,396. Jadi, rxy < rt sehingga menunjukan tidak ada pengaruh yang signifikan pada r taraf signifikan 5% dan jika itu ada pengaruhnya hanya kecil.

Sedangkan jika rxy = 0,173 dikonsultasikan dengan nilai r pada taraf signifikan 1%  sebesar 0,505  maka didapat rxy < rt, sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh yang signifikan pada r taraf signifikan 1%.

Dari analisis diatas dapat diketahui bahwa hasil nilai kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa tadris matematika berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 77,90, kemampuan matematis  juga berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 81,23 dan  kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa tidak berpengaruh terhadap kemampuan matematisnya  dilihat dari taraf signifikan 5% dan dan tidak ada juga pengaruh yang signifikan pada taraf signifikan 1% kalaupun ada nilai r kecil. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang positif antara kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematis mahasiswa tadris matematika IAIN Bengkulu angkatan 2018.

Persepsi Mahasiswa Tentang Pengaruh Kemampuan Membaca al-Qur’an dengan Kemampuan Matematis

Persepsi ini didapat dari hasil wawancara yang dilakukan secara online via whattsap pada Juli 2020 karena penelitian ini dilakukan pada masa pandemi Covid-19.

Keterangan:

P : Pertanyaan

R : Responden

P1: Bagaimana dengan hasil nilai matematis yang selama ini didapatkan, apakah selalu naik, menurun atau tetap seperti biasa tanpa naik/ turun?

R1: Naik turun

R2: Nilai matematis yang saya dapatkan naik turun dikarenakan materinya ada beberapa yang susah sehingga sulit untuk dipahami

R3: Untuk nilai matematis terkadang saya kadang naik kadang turun, semua tergantung kondisi belajarnya dan cara memahaminya. Akan tetapi alhamdulillah nilainya selalu naik meskipun naiknya sedikit demi sedikit.

R4: Berdasarkan nilai saya perhatikan bahwa nilai saya tidak tentu. Kadang naik kadang turun karena disebabkan kurangnya fasilitas atau buku-buku pembelajaran yang ada.

R5: Nilai yang saya dapatkan kadang naik kadang turun

R6: Ada beberapa nilai matematika saya yang naik dan ada juga yang turun dibandingkan dengan semester sebelumnya

R7: Alhamdulillah cukup memuaskan karena masih bisa mengambil mata kuliah tanpa tertinggal. Untuk nilai itu masih naik turun.

R8: Alhamdulillah cukup memuaskan setidaknya masih bisa ambil mata kuliah full disetiap semesternya.

R9: Hasil nilai matematis saya selama ini sebagian naik dan sebagian turun

R10: Mengalami naik turun 

P2: Bagaimana cara responden mengatasi jika nilai yang didapatkan itu kurang memuaskan/ Menurun?

R1: Berusaha untuk belajar lagi pada aspek yang kurang

R2: Cara saya mengatasinya adalah dengan mengulang kembali materi yang dipelajari sebelumnya dan biasanya saya membuka media seperti youtube untuk lebih memahami tentang materi tersebut.

R3: Cara saya mengatasinya adalah dengan mengintropeksi diri saya dan mencari motivasi serta harus lebih giat dalam belajar dan selalu mengulang kembali materi yang telah diberikan.

R4: Yaitu berusaha untuk meningkatkan kembali pembelajaran disemester selanjutnya.

R5: Dengan cara belajar lebih giat lagi untuk pembelajaran kedepannya

R6: Cara saya mengatasinya yaitu dengan cara lebih fokus lagi disemester kedepannya terutama pada mata kuliah yang turun .

R7: Belajar dengan lebih giat dan rajin lagi dari semester sebelumnya, berusaha mengerjakan tugas tepat waktu dan lebih sering beribadah dan berdo’a

R8: Dengan belajar lebih giat lagi, banyak mengulang pelajaran sebelumnya, tidak menunda-nunda belajar dan yang pasti tetap harus selalu berdo’a

R9: Cara saya mengatasinya yaitu bersyukur dan belajar lebih giat lagi

R10: Dengan meningkatkan kualitas belajar tanpa harus mengganggu aktivitas yang lain

P3: Bagaimana dengan hasil tahsin selama beberapa semester ini, apakah ada kemajuan?

R1: Pembelajaran tahsin hanya pada semester 1 sehingga saya merasa kurang

R2: Alhamdulillah hasil tahsin selama ini membawa kemajuan bagi saya. Saya mempelajari banyak hal ditahsin ini seperti tajwid yang selama ini saya rasa kurang dan masih perlu belajar.

Baca Juga  SAMBO, ELIEZER DAN HUKUM PROGRESIF

R3: Alhamdulillah, in syaa Allah nilainya selalu dalam kemajuan

R4: Alhamdulillah tahsin saya ada kemajuan dan perubahan dari pada semester sebelumnya.

R5: Ada kemajuannya untuk nilai juga sedikit demi sedikit naik

R6: Iya, saya rasa hasil tahsin dalam beberapa semester ini meningkat karena dosen pengampuh mata kuliah tahsin sendiri yang mengatakan bahwa tahsin saya meningkat

R7: Alhamdulillah nilai tahsin saya sudah baik dan ada kemajuannya dalam bacaan al-Qur’an dibandingkan dengan semester sebelumnya.

R8: Alhamdulillah ada kemajuan meski sedikit demi sedikit

R9: Hasil tahsin saya cukup memuaskan

R10: Iya ada kemajuan dibanding semester sebelumnya

P4: Bagaimana dengan tahfidznya? Apakah semakin kesini hafalannya semakin bertambah? Atausudah banyak lupa karena jarang muroja’ah?

R1: Sebagian masih ada yang ingat, ada juga yang harus dihapal lagi karena kurangnya muroja’ah.

R2: Tahfidz saya alhamdulillah semakin banyak. Namun ada beberapa surah yang saya rasa masih perlu dimuroja’ah lagi

R3: Alhamdulillah makin kesini makin banyak, muroja’ah memang sedikit sulit dan butuh perjuangan dan harus benar-benar ikhlas niatkan karena Allah.

R4: Karena saya kurang muroja’ah dari ada beberapa surah yang sering keliru atau lupa.

R5: Semakin kesini hafalan saya semakin banyak, tetapi hafalan-hafalan yang sudah disetorkan kemaren sudah banyak lupa karena tidak pernah muroja’ah

R6: Semakin naik semester maka semakin banyak pula hafalan karena dari pihak program studi mewajibkan menghafal al-Qur’an. Namun ada beberapa surah yang lupa dan tertukar dalam membacanya karena kurangnya muroja’ah.

R7: Makin kesini tahfidz saya makin meningkat. Akan tetapi, karena saya jarang muroja’ah jadi ada beberapa surah yang sering tertukar. Misal membaca surah an-Naba ayat 20, nyambung ke surah az-Zuriat ayat 12.

R8: Banyak lupa karena saya jarang sekali muroja’ah

R9: Tahfidz saya ada beberapa yang lupa karena jarang muroja’ah

R10: Iya semakin kesini semakin banyak dan in syaa Allah masih hafal semua

P5: Menurut responden, responden sendiri lebih kekemampuan matematis atau kekemampuan membaca al-Qur’an?

R1: Menurut saya ini adalah dua hal yang sulit untuk disandingkan karena tipe orang itu beda-beda, saya tipe orang yang susah untuk menghafal terutama rumus. Nah karena disini ada dua, sepertinya saya lebih kekemampuan membaca al-Qur’an walaupun saya rasa kemampuan membaca al-Qur’an saya masih perlu belajar.

R3: Menurut saya kemampuan matematis dan kemampuan matematisnya seimbang, tetapi saya lebih kekemampuan membaca al-Qur’an

R4: Menurut saya seimbang karena untuk matematika saya juga masih kurang dan masih perlu belajar, begitu juga dengan kemampuan membaca al-Qur’an.

R5: Menurut saya, saya lebih kekemampuan matematis terlebih itu memang jurusan saya dan pelajaran yang saya sukai.

R6: Menurut saya, saya lebih kekemampuan membaca al-Qur’an karena dari dulu saya sudah belajar al-Qur’an dan sampai sekarang saya masih menyukainya walalupun mungkin belum terlalu fasih dalam membacanya.

R7: Menurut saya, saya lebih kekemampuan membaca al-Qur’an karena saya minim dalam ilmu matematika

R8: sejujurnya saya minim semua, kemampuan membaca al-Qur’an minim, kemampuan matematis malah banyak tidak paham

R9: Menurut saya kemampuan matematis saya lebih baik dibanding kemampuan membaca al-Qur’an

R10: Menurut analisis saya memiliki keseimbangan dalam keduanya

P6: Menurut responden, apakah ada pengaruh ketika hafalan dan bacaan al-Qur’annya sudah bagus dengan hasil nilai matematis yang didapatkan?

R1: Ketika kamu menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu, jadi menurut saya sangat berpengaruh.

R3: Tentu berpengaruh, ketika bacaan al-Qur’an dan hafalan sudah bagus saya akan lebih mudah dan tenang dalam belajar matematis  dan in syaa Allah nilainya juga akan sesuai dengan perjuangan yang dilakukan.

R4: Berdasarkan pemahaman jika kita sering membaca dan menghafal al-Qur’an maka akan lebih mudah memahami pembelajaran lainnya. Jadi, ini berpengaruh

R5: Untuk hafalan dan bacaan al-Qur’an saya masih sangat kurang karena saya belum terlalu paham dengan tajwid dalam membaca al-Qur’an. Jadi tidak berpengaruh

R6: Tentu berpengaruh sekali karena ketika kita sudah bagus dalam membaca al-Qur’an maka kita akan merasakan ketenangan dalam belajar

R7: Menurut saya tidak ada pengaruhnya.

R8: Menurut saya tidak ada pengaruh sama sekali kekemampuan matematis saya

R9: Iya, ada pengaruh yang saya rasakan ketika hafalan dan bacaan al-Qur’an sudah bagus dengan hasil nilai matematis yang saya dapatkan.

R10: Iya berpengaruh, ada karena dalam al-Qur’an juga sudah dijelaskan keterkaitan antara islam dengan matematika

P7: Responden sendiri lebih cepat menghafal rumus dan memahami ilmu matematika atau lebih cepat menghafal al-Qur’an dan mempelajari tajwid al-Qur’an?

R1: Menurut saya seimbang tergantung konteks. Ketika rumusnya tidak rumit maka saya mudah menghafal, begitu juga dengan tahfidz.

R2: Tergantung, ada yang cepat dalam menghafal dan memahami rumus dan ada yang cepat dalam menghafal al-Qur’an. Tergantung materi yang dipelajari.

R3: Kalau saya lebih mudah menghafal rumus tetapi al-Qur’an harus tetap nomor satu

R4: Untuk saya sendiri lebih mudah menghafal rumus dan ilmu matematika.

R5: Lebih cepat menghafal rumus dan memahami ilmu matematis

R6: Saya tidak menyadari hal itu, tetapi menurut saya tergantung dengan mood saya, semua bisa dipahami dengan mudah jika ada niat

R7: Menghafal rumus dan memahami ilmu matematika

R8: Kalau dibandingkan, saya lebih cepat dalam menghafal rumus dan memahami matematika

R9: Menurut saya seimbang, dimana terkadang saya masih dipengaruhi oleh mood

R10: Memilki keseimbangan dalam keduanya

P8: Bagaimana pendapat responden tentang mata kuliah matematika dalam kajian al-Qur’an? Apakah responden tertarik dengan mata kuliah itu?

R1: Tertarik, pasti akan mengulik tentang hal-hal yang maa syaa Allah. Saya sangat menyukai mata kuliah ini.

R3: Sangat tertarik, sebelumnya saya belum pernah belajar ilmu matematis dalam kajian al-Qur’an dan mata kuliah ini akan menjawab rasa penasaran saya selama ini.

R4: Menurut saya sendiri, saya tertarik sekali dengan mata kuliah ini. karena selain memahami al-Qur’an kita juga bisa tau  bahwa didalam al-Qur’an ada banyak bahasan tentang ilmu matematika.

R5: Saya tertarik karena bukan hanya belajar tentang matematika tapi juga bersangkutan dengan agama.

R6: Menurut saya mata kuliah matematika dalam kajian al-Qur’an itu sangat menarik, maka dari itu saya sangat tertarik.

R7: Lumayan tertarik, karena disana kita bisa mendapatkan dua pembelajaran sekaligus yaitu matematika dan agama

R8: Lumayan tertarik, karena disana kita bisa mendapatkan dua pembelajaran sekaligus yaitu matematika dan agama

R9: Mengetahui ada mata kuliah ini membuat saya sangat penasaran dan tertarik.

R10: Menurut saya itu baik dan saya tertarik dengan mata kuliah ini.

Dari hasil wawancara diatas, mahasiswa menyatakan bahwa terdapat keseimbangan terhadap kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematisnya. Mahasiswa masih banyak minim dalam kemampuan membaca al-Qur’an dikarenakan kurangnya pembelajaran yang didapat dan kurangnya muroja’ah terhadap hafalannya serta tidak ada pengaruh yang menonjol terhadap kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematis yang didapat dilihat berdasarkan hasil nilai dan wawancara yang dilakukan.

KESIMPULAN

Dari uraian dan analisis diatas, baik teoritik maupun empirik maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  • Tingkat kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa tadris mahasiswa IAIN Bengkulu  angkatan 2018 dikategorikan dalam beberapa kelompok yaitu kategori tinggi dengan rata-rata nilai 79,28 – 83,81 sebanyak 12 responden dengan presentase 48%, kategori sedang dengan rata-rata nilai 74,74 – 79,27 sebanyak 7 responden dengan presentase 28%, dan kategori rendah dengan rata-rata nilai 70,20 – 74,73 sebanyak 6 responden dengan presentase 24%.
  • Tingkat kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa tadris mahasiswa IAIN Bengkulu  angkatan 2018 dikategorikan dalam beberapa kelompok yaitu kategori tinggi dengan rata-rata nilai 83,77 – 87,77 sebanyak 7 responden dengan presentase 28%, kategori sedang dengan rata-rata nilai 79,76 – 83,76 sebanyak 10 responden dengan presentase 40%, dan kategori rendah dengan rata-rata nilai 75,75 – 79,75 sebanyak 8 responden dengan presentase 32%.
  • Setelah data dianalisis dengan menggunakan rumus korelasi product moment maka didapat hasil yang menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang positif antara kemampuan membaca al—Qur’an dengan kemampuan matematis mahasiswa tadris matematika IAIN Bengkulu. Hal ini dibuktikan pada bilangan yang tertera pada analisis data di perolehan rxy sebesar 0,173 lebih kecil dari pada rt sebesar 0,396 dengan taraf signifikan 5%. Dengan demikian, hipotesis menyatakan bahwa “tidak ada pengaruh yang signifikan antara kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematis mahasiswa tadris matematika IAIN Bengkulu angkatan 2018”

Ada baiknya mahasiswa tadris matematika lebih menyeimbangkan kemampuan membaca al-Qur’an dengan kemampuan matematis karena kedua kemampuan ini memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan terkhusus mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri karena bukan hanya kemampuan matematis saja yang perlu diasa.

Untuk pihak program studi (HIMA), ada baiknya untuk lebih mengaktifkan lagi kegiatan tahsin dan tahfiznya mengingat ini sangat penting untuk kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2007). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Rineka Cipta.

Budiono. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta: UNS Press.

Hasri, & Nur, R.(2016). Kemampuan baca tulis  al-Qur’an dan korelasinya terhadap kemampuan matematika             mahasiswa tadris matematika IAIN   Palopo. Al-Khwarizmi : Jurnal Pendidikan Matematika dan Pengetahuan   Alam,4(2),163-172. http://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/khwarizmi.

Ismail. (2008). Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM.  Rasail

Marpaung, Y. (2003). Pembelajaran   matematika yang menyenangkan. Seminar     Nasional Komperda    Himpunan Matematika Indonesia Wilayah Jawa             Tengah dan DIY. Surakarya.

Nana, S. S. (2010). Metode     Penelitian Pendidikan. PT. Remaja Rosdakaryal.

Santi, W.(2016). Pengaruh gaya bahasa terhadap prestasi     belajar  mahasiswa      program studi pendidikan matematika (IAIM NU) Metro. Al-Jabar: Jurnal      Pendidikan Matematika, 7(1), 107-114. Sudjana, N. (2011). Penelitian        hasil proses belajar mengajar. Remaja Rosdakarya

Sugiono. (2018). Metode Penelitian    Kuantitatif, Kualitatif dan R    & D. Alfabeta.

Sugiono. (2009). Metode Penelitian    Kuantitatif, Kualitatif dan R    & D. Alfabeta.

Yulianti, E., Zurkardi, dan Siroj A, S. (2010).Pengembangan Alat   Peraga             Menggunakan             Rangkaian Listrik Seri Paralel Untuk Mengajarkan          Logika             Matematika di SMKN 2 Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1),

Share :

Baca Juga

Literasi & Opini

Ketentuan Fidyah bagi yang Tidak Mampu Qadha Puasa, Berapa Takaran Fidyah Satu Orang/Hari?

Literasi & Opini

Pasal 45C dan Wartawan Profesional

Literasi & Opini

Sundulan Gusnan Gundul

Literasi & Opini

Maradona, Cinta dan Nasionalisme

Literasi & Opini

Laporkan Penyelewengan Pengelolaan Keuangan Desa

Hukum

SAMBO, ELIEZER DAN HUKUM PROGRESIF

Literasi & Opini

KUNCI MATI; Membaca Sholat ala Azam (3)

Literasi & Opini

Messi, Chiellini dan Richard Branson