Home / Literasi & Opini

Rabu, 20 Mei 2020 - 00:17 WIB

Dilema Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Sandy Satria Buana, Mahasiswa Fakultas Hukum

DUNIA saat ini sedang kewalahan akibat pandemi Coronavirus Disease-19 (Covid-19). Menurut WHO, sejak ditetapkan sejak 11 Maret 2020, pandemi Covid-19 telah melanda setidaknya 214 negara termasuk Indonesia yang kemudian hebatnya virus ini mampu memaksa lebih dari setengah umat manusia mengunci diri di dalam rumah dan menghentikan segala aktivitas seperti biasanya termasuk pendidikan.

Kepada dunia pendidikan, Covid-19 telah mengubah banyak hal. diantaranya ada sekitar 404 ribu sekolah jenjang sekolah dasar hingga menengah harus tutup. Lalu ada lebih dari 51 juta peserta didik baik PAUD, SD, SMP, hingga SMA, SMK, dan SLB keluar dari ruang kelas. Tanpa persiapan yang matang, sekolah-sekolah formal tiba- tiba dipaksa menggunakan aplikasi media pembelajaran jarak jauh untuk menggantikan pembelajaran tatap muka di kelas. Para guru juga mendadak dipaksa melakukan sesuatu yang berbeda dalam pemberian pelajaran kepada peserta didik.

Pandemi Covid-19 memang menuntut perubahan paradigma pembelajaran yang sangat cepat dan tidak direncanakan, kita mendadak beralih ke pembelajaran online tanpa pelatihan, dan sangat sedikit persiapan, yang tentu saja akan menghasilkan pengalaman belajar yang buruk. Kondisi ini tidak kondusif untuk kelanjutan pengembangan pendidikan dan pencapaian standar kompetensi minimal yang harus diraih.

Baca Juga  Kritik Rancangan Peraturan Daerah Kepemudaan di Kabupaten Kepahiang

Guru-guru yang kebetulan familiar dengan aplikasi digital tentu tak terlalu menemukan kesulitan berarti. Namun sebaliknya, bagi mereka ini momentum untuk mengasah kemampuannya membuat pembelajaran e-learning. Tapi jumlah guru yang seperti itu amatlah terbatas, apalagi jika dibandingkan dengan jumlah siswa yang sangat banyak. Masih ada cukup banyak guru yang canggung memanfaatkan model pembelajaran secara daring. Akibatnya, para guru memilih untuk mengeluarkan jurus pamungkas, yaitu dengan memberi tugas.

Pandemi ini telah benar-benar mengganggu sistem pendidikan dan mengakibatkan pendidikan kehilangan relevansinya. Sekolah yang semula berfokus pada keterampilan akademik tradisional tiba-tiba harus pindah ke pembelajaran online yang mengharuskan kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Tak bisa dipungkiri Pandemi Covid-19 akan membuat krisis dunia pendidikan kita kian mendalam. Kenapa begitu ? Karena kondisi pendidikan kita sebelum munculnya virus kurang ajar ini pun sejatinya tidak begitu baik. Ini terbukti dari survei dari PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2018.[1]

Baca Juga  Membaca Sholat ala Azam (1)

Survei ini menyebut Indonesia berada pada posisi urutan bawah dari 77 negara, yang dicerminkan dari posisi kemampuan siswa Indonesia yang berada di posisi 74 dengan skor 371, posisi kemampuan matematika di posisi 73 dengan skor 379 dan posisi kemampuan sains di posisi 71 dengan skor 396. Jika tanpa Covid-19 saja sudah begitu, maka sudah bisa dipastikan jika saat ini kualitas pendidikan kita akan sangat ambyar.

Belum adanya kepastian soal kapan pandemi Covid-19 berakhir tentu mempengaruhi dunia pendidikan tak cuma secara psikologis dan teknis, tapi juga problem paradigmatis. Soal ini, ada yang bilang, bahwa Covid-19 berakhir pada Juni 2020. Tapi ada juga yang menyebut maret 2021. Bahkan Studi dari Harvard University lebih ekstrim lagi, bahwa protokol untuk melakukan Physical distancing mungkin perlu dilakukan setidaknya hingga tahun 2022. Kecuali jika ada peningkatan kapasitas medis, atau tersedianya vaksin Covid-19.

Jika melihat realita yang terjadi saat ini, Kegiatan pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 terkesan hanya dibuat dan dipersiapkan untuk jangka waktu yang pendek dan bersifat sementara, sambil menunggu perkembangan. “Wait and See”, dan berharap Pandemi segera berakhir sehingga pembelajaran bisa kembali dilakukan seperti biasa.

Baca Juga  Pemilu 2024, Ada Resesi, Rasa Pandemi dan Rasa Suksesi

jika situasi seperti ini dengan institusi pendidikan yang lebih memilih melakukan “wait and see”. Kita Seumpama “katak direbus”, kondisi dimana seekor katak tidak melompat dan malah merasa nyaman ketika ditaruh di atas kuali berisi air yang dipanaskan secara perlahan. Sang katak tak kunjung tahu, akan bahaya yang mengancamnya, Sampai akhirnya katak rebus siap disantap.

Tidak bisa tidak, para pemangku kebijakan di semua level institusi pendidikan harus segera mengambil langkah cermat untuk melakukan transformasi total sistem pendidikan. Karena mengingat mendidik generasi bangsa ini tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Kesiapan tenaga pendidik, keterpaduan kebijakan pendidikan pusat dan daerah. Lalu, infrastruktur pendidikan, hingga sub-komponen lain yang mempengaruhi kualitas pendidikan nasional ditengah pandemi ini perlu dikawal dan diperhatikan secara khusus dan serius.

Karena Pendidikan merupakan kunci pembangunan sumber daya manusia. dan Kualitas sumber daya manusia merupakan kunci terwujudnya Indonesia Emas 2045, yang adil dan sejahtera, aman dan damai, serta maju dan mendunia. Pendidikan yang akan menentukan kemana bangsa ini akan menyongsong masa depannya, apakah menjadi bangsa besar yang beradab, cerdas dan siap beradaptasi dengan perubahan zaman. Atau, menjadi raksasa sakit, yang tenggelam dalam berbagai persoalannya sendiri. Kalah dalam persaingan global, dan bahkan diacak-acak berbagai kepentingan .

[1] https://kumparan.com/kumparansains/menilik-kualitas-pendidikan-indonesia-menurut-pisa-3-periode-terakhir-1sO0SlXNroC/full Diakses pada tanggal 17/5/2020

Share :

Baca Juga

Literasi & Opini

Kemajemukan dalam Demokrasi Kita

Literasi & Opini

Perlunya Respon Kebijakan

Literasi & Opini

UU Minerba yang Mengamputasi Hak Veto Rakyat dan Alam

Literasi & Opini

Tulisan Azam tentang Pemuda dan Institusional Kritik

Literasi & Opini

Industri Pilkada

Literasi & Opini

Parsa, Komisi II dan Tradisi Musyawarah

Literasi & Opini

Pameran “Kekayaan” Memicu Lahirnya Anarkisme Sosial

Literasi & Opini

Enam Media Digugat Rp 1T