Home / Literasi & Opini

Sabtu, 25 Januari 2020 - 09:34 WIB

Kemajemukan dalam Demokrasi Kita

Medio, Loyalis Agusrin

Medio, Loyalis Agusrin

Oleh: Medio Yulistio, SE.

Religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap agama lain, dan hidup rukun bersama agama lain (Suparlan, 2010).

Dari definisi tersebut makna religiusitas sangat general dalam konteks pemeluk agama apapun. Tak hanya muslim, mengacu pada definisi diatas bahwa non muslim juga dapat melabeli dirinya masing-masing sebagai pemeluk agama yang religius.

Hari-hari terakhir sudah terjadi pembelahan identitas antara religius dan non religius. Religius digeserkan maknanya hanya kepada simbolik agama tertentu yang didalamnya kembali dikhususkan kepada kelompok kecil diagama tersebut. Religius diklaim hanya dimiliki oleh kelompok kecil dalam kelompok besar suatu agama. Dan celakanya lagi, sesuatu yang religius acapkali diletakkan pada hal yang bersifat wujud simbolik : janggut, celana cingkrang, ataupun pernak pernik simbolik lainnya.

Padahal, definisi religius sangat luas maknanya. Religius harus ditafsirkan sebagai kebutuhan setiap pemeluk agama. Kedalam agamanya, mereka menjadi orang yang taat menjalanlan ibadah agamanya masing. Keluar agamanya, mereka mampu menciptakan harmonisasi kehidupan ditengah perbedaan dalam keadaan damai dan setara.

Baca Juga  Tulisan Azam tentang Pemuda dan Institusional Kritik

Identitas itu harus ditunjukkan dalam sikap bahwa tidak ada perasaan berlebihan yang ditonjolkan kepada kehidupan keberagaman bahwa agama yang dianutnya adalah sebaik-baik agama dibanding agama lainnya.

Dalam kepemimpinan, religiusitas itu merupakan nilai yang harus mampu ditransformasikan kepada seluruh masyarakat (publik) yang dinaunginya. Transformasi yang diharapkan adalah transformasi yang mencakup nilai-nilai keadilan, kesamaan dan juga kesejahteraan (mengobati kemiskinan). Karena dalam kepemimpinan, terminologi dari kata religius tidak sempit hanya kepada tampilan simbolik saja.

Religiusitas harus hadir melalui seluruh instrumen pemerintahan yang dimiliki beserta public policy yang dibangunnya. Dan didalam setiap kebijakan tersebut, makna keadilan harus hadir kepada seluruh pihak serta golongan didalam masyarakat.

Karena dalam keadilan itu akan mampu menembus sekat perbedaan; Suku, Agama, Ras, dan Etnis. Dan dalam hal tersebut dapat kita lihat dalam QS. Shad (38) : 22, “Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.”

Baca Juga  Phobia Covid-19, Money Politic & Black Campaign : Potensi Kerawanan Pilkada

Kemudian kita bertanya tentang relevansi dari religiusitas sebagai icon dari pemasaran politik yang terjadi. Benar bahwa dalam beberapa pendapat, isu yang mampu “membangkitkan” sensitifitas keyakinan lebih mudah diorganisir daripada isu-isu kerakyatan seperti : ekonomi, pengangguran, tenaga kerja, infrastruktur, korupsi ataupun yang lainnya. Karena “sentimen” keyakinan ini mudah sekali didorong menjadi energi politik yang luar biasa. Bahkan Donald Trump dalam memenangkan kursi presiden di Amerika yang dikenal liberal dan pluralis-pun masih menggunakan isu-isu keagamaan sebagai bahan kampanyenya.

Sebentar lagi kita menuju pemilihan kepala daerah serentak pada tahun 2020. Kita semua wajib berharap bahwa estafet 5 tahunan demokrasi ini dapat dilalui dengan proses yang damai.

Baca Juga  Sejarah PKI: Tujuan, dan Gerakan 30 September

Kita juga harus belajar dari pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, tanpa menghakimi pihak mana yang benar, kita semua menyadari bahwa kekuatan politik terbelah hingga ke akar rumput.

Dimana masyarakat teridentifikasi hanya dari, jika dia bersama kita, dia adalah kelompok kita, begitu juga sebaliknya. Dan setelah itu, pasca pemilihan langsung terjadi, dengan pembelahan isu “agama” tersebut akan memakan waktu yang lama untuk merajut kembali rekonsiliasi ditingkatan masyarakat agar menjadi utuh kembali.

Semoga pemilihan langsung kepala daerah serentak pada tahun 2020 memberikan hawa yang sejuk pada masyarakat.

Demokrasi nantinya harus hadir dengan kegembiraan dengan mengesampingkan isu-isu identitas. Karena semua harus memahami bahwa Indonesia berdiri diatas kemajemukan dan semangatnya adalah egalitarian.

Karena perbedaan itulah yang menyatukan dan merekatkan kita hingga Indonesia tetap berdiri sampai hari ini.

Selasa, 21 Januari 2020
Kota Bengkulu

Share :

Baca Juga

Literasi & Opini

Hidup Itu Singkat

Literasi & Opini

Memahami Penyebab Kepuasan Kerja dan Perilaku Kesukarelawan Pekerja : Sebuah Penelitian

Literasi & Opini

Api Tutwuri Handayani

Literasi & Opini

Pencairan BLT Desa Belum Berjalan Mulus di Sejumlah Kabupaten/Kota

Literasi & Opini

Selamat Jalan Diego

Literasi & Opini

Enam Media Digugat Rp 1T

Literasi & Opini

Industri Pilkada

Literasi & Opini

Berpikir Hanyalah Guyonan