Home / Literasi & Opini

Minggu, 18 Oktober 2020 - 18:43 WIB

Kota Kasim

Cerpen oleh Paet Lubis
HMI Komfis Unib dan Lispro

Matahari telah terbenam. Cahaya matahari sirna dari langit menghilang secara perlahan sampai tak tersisa warna apapun dilangit selain kegelapan yang kosong. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Waktu yang mengisyaratkan lampu-lampu jalanan dihidupkan. Jalanan mulai sepi, hampir jarang kendaraan yang melintas ditambah dengan hujan gerimis yang membasahi aspal. Jalanan yang berlukiskan garis putih di tengah dan garis kuning di pinggirnya terlihat mengkilap bagaikan terbuat dari kaca tipis, yang memantulkan cahaya-cahaya lampu.

Terlihat gadis seorang gadis muda di pinggir jalan mengarahkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, sambil sesekali melihat arloji ditangan kirinya, seakan tangah menunggu sesuatu. Di tengah penantiannya terlihat mobil hitam menyalakan sen kiri, mengurangi kecepatan dan berhenti tepat di depan si gadis. Sesosok pria paruh baya terlihat dari kaca mobil yang baru saja terbuka.

“Mau kemana Neng ?,” tanya lelaki itu.

“Mau ke Rumah temen bang.”

“Dimana rumah temennya?”

“Saya lupa nama jalannya, tapi rumahnya dekat rumah sakit katanya”

“Ouh, lumayan jauh dari sini kalo jalan Neng. Mungkin sekitaran tiga kilometer, di jam segini angkot udah pada enggak narik lagi,” kata si lelaki tersebut.

Raut muka si gadis tiba-tiba mengkerut, memperlihatkan senyuman yang dipaksakan.

“Kalo mau, saya antar. Mumpung saya juga mau ke arah situ, jadi sekalian aja,” tambahnya dengan nada ramah.

Si gadis tampak gelisah dan kebingungan, terlihat dari caranya menggenggam erat tas yang disandangnya.

“Enggak perlu khawatir, saya tidak akan berbuat kurang ajar. Kalo mau, Neng bisa duduk di bangku belakang. Jadi kalo saya tiba-tiba berbuat yang macam-macam, Neng bisa langsung buka pintu atau menyerang saya dari belakang,” katanya mencoba meyakinkan.

“Ya udah deh Bang, saya duduk di bangku belakang ya.”

“Iya Neng, enggak papa,” jawab si laki-laki sambil membukakan pintu mobil dari dalam mobil.

Gadis itupun masuk ke dalam mobil, duduk di belakang laki-laki tadi. Si pengemudi pun memutar setir dengan perlahan ke arah kiri sambil menekan pedal gas dengan pelan tapi pasti, mengarahkan muncung mobil ke jalur aspal yang masih basah.

“Baru ya disini?” tanya laki-laki itu memulai percakapan.

Baca Juga  PROFIL PROF. IMAM MAHDI (1) LURAH YANG MENJADI GURU BESAR

“Iya Bang, oh iya kenalin nama saya Inem,” jawab gadis itu sambil menyodorkan tangan kanannya.

“Kenalin juga, nama saya Jaka,” sambil menjabat tangan Inem tanpa memalingkan wajahnya ke belakang.

Keheninganpun menyerang mereka berdua, tak ada lagi yang ingin membuka percakapan. Semunya seperti sibuk dengan urusannya masing-masing dan tak ingin mengusik urusan yang lain. Tetapi tiba-tiba Inem mulai memulai obrolan sekali lagi.

“Abang tahu dari mana saya baru disini?”

“Ohh itu, Neng kan tadi bilang tidak tahu nama jalan, terus melihat dari reaksi si Neng tadi saya pikir kayaknya Neng masih baru disini.”

“Memangnya kenapa dengan reaksi saya?” tanya Inem kembali sambil mengkerutkan alisnya.

“Reaksi Neng tadi seakan-akan kalau saya ini predator yang mesti diwaspadai, ha ha … ,” jawabnya sambil tertawa yang dipaksakan.

“Memangnya kenapa Bang? kan wajar aja saya hati-hati, sekarang ini modus kejahatan macem-macem.”

“ Wajar aja sih Neng, tapi di kota ini lain, Neng tahukan julukan kota ini apa?”

“Tahu Bang, Kota Kasim, kan?” jawab Inem dengan percaya diri.

Setelah menjawab pertanyaan dari Jaka, Inem sempat terdiam memandang kosong kearah bawah, kebingungan atas apa yang baru saja ia katakan.

“Kenapa dijuluki Kota Masim ya Bang ? kan Kasim itu sebutan untuk pelayan Raja yang dikebiri, biar si pelayan enggak ganggu istri-istri Raja.”

“Gini Neng, itu ada sejarahnya. Bukan sejarah sih lebih tepatnya, tapi mitos. Saya bisa ceritain tapi ceritanya agak ngeri nih Neng, gimana ?”

“Boleh Bang, enggak papa kalau ngeri juga.”

Inem yang terlihat penasaran memperbaiki posisi duduknya, mendekatkan tubuhnya ke arah Jaka, memperhatikannya dari arah samping sambil menunggu apa yang akan dikatakan si pengemudi yang tengah melihat lurus ke depan.

“Jadi gini Neng, dulu itu ceritanya sebelum ini masih desa belum kota hidup seorang gadis, namanya kalau enggak salah…” Jaka menghentikan ucapannya sambil mengingat-ingat sesuatu.

“Siapa ya? saya lupa namanya, tapi gadis ini bisa dikatakan kembang desa. Si gadis ini dikagumi karena kecantikannya, bukan cuma cantik tapi juga baik, murah senyum, dari pakaian dan tingkah laku juga sopan. Suatu hari, nasib na’as menimpa gadis ini tadi. Ia diperkosa oleh seorang laki-laki sewaktu berjalan sendirian dari pasar. Karena tekanan batin yang ia terima, gadis ini pulang ke rumah lalu menikamkan gunting ke perutnya. Sejak saat itu, kata orang tua jaman dulu, arwahnya penasaran. Si gadis ini selalu menyamar jadi gadis dan memotong alat kelamin laki-laki yang mencoba mengganggu atau berbuat macam-macam dengan gunting yang digunakannya waktu bunuh diri. Makanya, sejak saat itu daerah ini diberi julukan Kasim, terus akibatnya enggak ada lagi laki-laki di sekitar sini yang berani melecehkan apalagi berbuat yang macem-macem sama gadis, gitu neng,” jelas Jaka dengan nada santai sambil melihat kearah Inem sesekali.

Baca Juga  Shin Tae Yong

“Hmm… gitu ya bang,” sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sesekali.

“Pantas waktu saya baru ke sini enggak ada laki-laki yang manggil-manggil atau siul-siul gitu.”

“Iya Neng, jadi Neng enggak usah khawatir di kota ini. Tapi apa yang saya ceritain itu versi umumnya, ada lagi satu versi yang saya dapat dari cerita nenek saya. Katanya cerita yang saya ceritain tadi itu ditutup-tutupi.”

“Versi lain?”

“Iya, jadi gini ceritanya. Karena udah kepalangan basah saya ceritain aja deh. Jadi si gadis tadi tidak bunuh diri setelah pemerkosaan. Ia pulang ke rumah seperti biasanya, gadis ini enggak berani bilang ke orang tuanya apa yang telah dialaminya, ia malu dan takut dengan pandangan orang kampung, belum lagi cemoohan warga sekitar. Ia pendam rahasia ini sampai akhirnya beberapa bulan kemudian ia menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Karena udah ketahuan dia hamil, jadi diceritain kejadian-kejadian yang dialaminya beberapa bulan yang lalu. Si pelaku disuruh bertanggung jawab, tapi bukannya dihukum malah dipaksa menikahi si gadis, biar anak yang bakalan lahir ini punya Bapak. Tapi kalau menurut nenek saya, itu dilakuin biar pihak keluarga tidak menanggung malu. Singkat cerita menikahlah mereka berdua. Dan selama pernikahannya, si gadis mendapati berbagai macam penyiksaan. Dibentak, ditampar, bahkan sampai usia kehamilannya yang udah tua masih dipaksa bekerja mencari nafkah. Sedangkan si laki-laki santai-santai di rumah, sesekali keluar entah kemana lalu pulang-pulang dengan muka merah. Si gadis ini enggak tahan lalu memutuskan bunuh diri dengan anak yang lagi ia kandung.”

Baca Juga  Messi, Chiellini dan Richard Branson

“Merinding saya dengernya. Kasihan.”

Sesaat Inem terdiam mencoba merenung apa yang baru saja ia dengar.

“Tapi Abang bilang tadi ditutup-tutupi, kenapa ditutup-tutupi Bang?”

“Jadi gini Neng, ini saya ambil dari apa yang nenek saya bilang ya. Cerita itu ditutup-tutupi karena seakan-akan gadis itu bunuh diri karena kesalahan orang tua dan masyarakat sekitarnya. Seharusnya kan yang dihardik, dicaci dan sejenisnya itu si laki-laki bukan si gadis. Kalau saja pada saat itu si gadis tidak dipaksa menikahi laki-laki yang sudah memperkosanya itu, hidupnya tidak akan menderita seperti itu. Jika ia juga mengadu lebih awal Ia juga harus menerima semua cemoohan masyarakat, dan ujung-ujungnya bakalan dipaksa nikah juga. Ia memang sudah dilecehkan, tapi bukan berarti kesuciannya hilang. Ia masih memiliki masa depan yang luas dan laki-laki lain yang mau menerima dia apa adanya. Dunia ini luas kok, kata nenek saya loh ya. Jadi bisa dibilang alasan kenapa gadis itu tidak tenang di alam sana, bukan karena kebenciannya kepada laki-laki yang telah memperkosanya, tapi kepada masyarakat yang sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan lagi. Ia itu korban dan seharusnya dilindungi, dan diperhatikan bukan malah dihujat seakan-akan diri sendirinyalah yang mengundang nasib sial untuk menimpa dirinya,” sambil tersenyum-senyum kecil memamerkan pengetahuan dan kebaikan hatinya.

“Ohh iya, saya baru ingat sekarang, nama gadis itu mirip sama nama kamu Neng,” sambil menoleh kebelakang kearah Inem, tapi Jaka tidak menemukan siapapun di kursi penumpang, bagaikan gadis yang duduk tepat berada dibelakangnya lenyap bagaikan bayangan hitam yang tiba-tiba diterpa cahaya.

Jaka pun meminggirkan mobilnya ke arah bahu jalanan. Ia turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil yang digunakan oleh Inem beberapa menit yang lalu. Ia menyipitkan matanya, melihat dengan hati-hati seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Diantara pencariannya mencari petunjuk Jaka menemukan sesuatu. Sesuatu hal yang membuat pupil matanya membesar, keringat dingin mengalir membasahi keningnya, jantungnya berdegup kencang dan nafasnya terasa sesak. Ia melihat Gunting Besi dengan sedikit karatan tergeletak dimana Inem tadi berada.

Share :

Baca Juga

Literasi & Opini

Amandemen Bukan Harga Murah

Literasi & Opini

Shin Tae Yong

Literasi & Opini

Asa Rakyat Bumi Etam Dibalik Pemindahan IKN

Literasi & Opini

Letusan Bisul di KPK

Literasi & Opini

Hubungan Antar Kapabilitas Pemanufakturan
Cara Budidaya Jamur Tiram, dan Keuntungannya

Literasi & Opini

Cara Budidaya Jamur Tiram, dan Keuntungannya

Literasi & Opini

Analisis Pengaruh Kemampuan Membaca Al-Qur’an dengan Kemampuan Matematis Mahasiswa Tadris Matematika IAIN Bengkulu

Literasi & Opini

Karma Kehidupan