Home / Nasional

Selasa, 27 Juli 2021 - 22:57 WIB

Panduan Islami dalam Menghadapi Pandemi

Dakwah ri-media.id – COVID-19 belum ada tanda penurunan di Indonesia maupun di seluruh dunia. Virus yang masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2020 itu telah menyerang lebih dari satu juta jiwa di seluruh tanah air dan lebih dari 50.000 orang dilaporkan meninggal dunia.

Sementara itu, agama Islam selalu mengajarkan kita untuk terus tabah menghadapi berbagai macam cobaan seperti pandemi. Sesungguhnya ini merupakan bagian dari cobaan dan peringatan dari Allah SWT kepada kita agar menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Tentunya, ada berbagai cara untuk selalu ikhlas menghadapi krisis seperti sekarang ini, tak terkecuali dengan cara Islami. Lantas, bagaimana itu? Dilansir dari situs New Muslim, berikut upaya kita sebagai seorang Muslim untuk menghadapi dan meminimalisir pandemi.

Kewajiban dasar umat Islam baik itu individu dan lembaga dalam menghadapi wabah

Bersabar dan bekerja sama untuk kemaslahatan kita dan orang lain, khususnya umat Islam yang bekerja di bidang kesehatan. Hadits mengamanatkan kepada umat Muslim:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi banyak orang,” Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga  Mengingat Kembali Pesan Jenderal Bintang Dua Asal Pasemah Pagaralam Setahun Lalu

Kedua, menghindari rumor dan menyebarkan berita dan informasi palsu. Umat ‚Äč‚ÄčIslam harus berusaha memberi harapan dan menebarkan hal positif karena semua yang terjadi adalah atas kehendak dan ketetapan Allah SWT.

Mengambil tindakan pencegahan dengan selalu patuh pada protokol kesehatan, serta meyakinkan diri untuk tidak panik dan saling menjaga satu sama lain sebagai manusia.

Pandangan Islam tentang pembatasan ibadah

Orang yang diduga terinfeksi wajib menjauhi masjid dan tempat berkumpul lainnya sampai diperiksa dan dipastikan tidak menilar atau dinyatakan negatif dari virus. Melakukan sebaliknya dianggap sebagai tindakan berbahaya dan berdosa dalam Islam.

Islam melarang menyakiti diri sendiri dan merugikan orang lain. Selain itu, aturan Islam sangat masuk akal dalam hal menghormati orang lain. Nabi Muhammad SAW meminta para sahabatnya untuk menghindari pergi ke masjid setelah makan bawang putih agar tidak mengganggu jamaah lain dengan baunya.

Jika memang epidemi terbukti akan menyebar lebih cepat melalui pertemuan besar seperti salat berjamaah di masjid, maka itu harus dibatalkan sampai negara pulih dari bencana, epidemi dan status darurat dicabut. Salat tetap bisa dilaksanakan di rumah masing-masing.

Baca Juga  20 Pasutri Ikuti Nikah Itsbat Di HUT Ke-3 PWI Mukomuko

Bisakah kita meninggalkan negara yang terkena virus untuk menghindari infeksi?

Tidak diperbolehkan meninggalkan negara tempat virus menyebar demi perlindungan diri. Nabi Muhammad SAW melarang Muslim memasuki tanah di mana wabah sedang terjadi dan meninggalkan tempat di mana wabah itu terjadi.

Al-Bukhari (5739) dan Muslim (2219) meriwayatkan dari Abd ar-Rahmaan ibn Auf RA bahwa dia berkata, “aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,”

“Jika kamu mendengar bahwa (wabah itu) ada di suatu negeri, jangan pergi ke sana, dan jika wabah itu terjadi di negeri tempat kamu berada, jangan pergi atau melarikan diri darinya.”

Bolehkah ibadah haji dan umrah dibatalkan karena COVID-19?

Jika para ahli telah memutuskan bahwa jamaah haji atau umrah akan menyebabkan virus menyebar lebih cepat dan menimbulkan risiko bagi jamaah, maka ibadah tersebut dapat dibatalkan sampai bahaya berakhir dan virus telah sepenuhnya diberantas.

Baca Juga  Benarkah Setiap Manusia Wajib Berdakwah?

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik,” (QS. Al-Baqarah ayat 195)

Tentang memandikan jenazah yang terinfeksi virus corona

Memandikan jenazah adalah langkah penting sebelum membungkus dan mengubur mayat dalam Islam. Namun, jika ada risiko penularan karena menyentuh tubuh almarhum, maka seseorang dapat menuangkan air dalam jumlah yang banyak ke tubuh tanpa menyentuhnya.

Jika membasuh dengan air sepertinya tidak memungkinkan, maka mempraktikan tayamum diperbolehkan. Adapun kemungkinan risiko berada di dekat mayat, maka dianjurkan untuk melanjutkan salat jenazah tanpa dimandikan. Poin terakhir menjadi pilihan paling aman bagi orang-orang di sekitar almarhum.

Allah SWT meriwayatkan dalam Al-Quran:

“…. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah ayat 185).

Sumber : Kumparan

Share :

Baca Juga

Nasional

Awal Pekan Depan Jurnalis dan Ormas Bakal Geruduk Kantor DPRD Bengkulu Utara

Nasional

Dorong ASN Sejalan dengan Visi Misi Gubernur dan Wakil Gubernur, Perjanjian Kinerja Pejabat Dilakukan

Nasional

Kota Padang Bangun Sumur Wakaf di Palestina

Nasional

Satgas Kolakopsrem 172/Pwy Berhasil Evakuasi Jenazah Suster Maelani di Kiwirok

DPD RI

UU HPP Jangan Sampai Jadi Jebakan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kelas Menengah

Nasional

Koordinator API : MoU Antar Media yang Tergabung Sangat Perlu

Nasional

Wawali Hadiri Seminar Perempuan, Ciptakan Peluang Usaha Melalui Kreativitas

Nasional

IPKM Gelar Piala Bergilir Gubernur Bengkulu 2022