Home / DPD RI / Nasional

Jumat, 17 September 2021 - 10:02 WIB

Rapat Kerja dengan KOMNAS HAM, Pansus Guru DPD RI: Pengabaian Hak Guru Honorer Harus Dihentikan

Jakarta ri-media.id – Panitia Khusus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer (Pansus GTKH) DPD RI menggelar Rapat Kerja dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pada Rabu (15/9) secara virtual. Dalam rapat kerja tersebut hadir dari Komnas HAM, Munafrizal Manan, Wakil Ketua Internal Komnas HAM, sekaligus Ketua Tim Penanganan Guru Honorer Komnas HAM.

Ketua Pansus GTKH, Tamsil Linrung, dalam sambutanya mengatakan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pekerjaan yang layak. Karena hal ini telah dijamin oleh konstitusi serta menjadi tanggung jawab negara dalam mewujudkan kesejahteraan umum. “Salah satu tujuan dibentuk negara ini ialah mewujudkan kesejahteraan umum, dan hal ini melekat pada konstitusi negara kita,” ujar Tamsil Linrung.

Baca Juga  PPKM Level 3, Pemkot Bengkulu Gelar HUT Sederhana dan Terbatas

Anggota DPD RI asal Sulawesi Selatan ini juga menambahkan, guru sebagai salah satu profesi memiliki hak memperoleh penghasil yang layak, termasuk guru honorer. “Kita sudah sering mendengar bagaimana nasib guru honorer sangat memprihatinkan. Penghasilan yang mereka peroleh jauh dari layak, bahkan dibawah upah minimum regional. Padahal beban kerja mereka cukup berat dalam turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” tambah Tamsil Linrung.

Sedangkan dalam paparannya, Komnas HAM menyatakan guru honorer memiliki hak asasi yang wajib dijamin negara, khususnya menyangkut hak atas pendidikan dan hak atas pekerjaan serta penghidupan layak sebagaimana diamanatkan dalam UUD Tahun 1945. Sayangnya, hak ini kerap diabaikan. Pengabaian hak guru honorer harus dihentikan dengan keberpihakan kebijakan negara.

Baca Juga  Polres Bengkulu dan Polsek Selebar Harus Bertindak Cepat

“Komnas HAM mendapat banyak pengaduan mengenai nasib guru honorer dan telah melakukan investigasi serta menyampaikan rekomendasi pada presiden. Diantara rekomendasi strategis Komnas HAM kepada presiden adalah kebutuhan afirmasi kebijakan, khususnya dalam pengikutsertaan tenaga honorer guru dalam penangangkatan CPNS atau PPPK,” jelas Munafrizal.

Selanjutnya Munafrizal mengingatkan, dalam penyelesaian permasalahan guru honorer dibutuhkan lebih dari sekedar political statement, tetapi juga political action. Hal ini bukan hanya menyangkut kepentingan guru semata, tetapi tentang mutu pendidikan dan nasib generasi penerus bangsa.

Baca Juga  Sejumlah Kadinda Kecewa, Panitia Munas Kurang Peka

Sedangkan Mirati Dewaningsih, Wakil Ketua Pansus GTKH, mempertanyakan secara tegas apakah permasalahan guru honorer yang terus berlarut-larut termasuk dalam kategori pelanggaran HAM. “Saya hanya ingin ketegasan apakah permasalahan guru honorer ini termasuk pelanggaran HAM atau bukan. Karena dari keterangan yang disampaikan Komnas HAM belum memberikan kejelasan ke arah tersebut,” tegas Mirati.

Dalam penutupnya, Tamsil Linrung kembali menegaskan permasalahan guru honorer harus segera dituntaskan. Jika ini tidak dilakukan, maka potensi pelanggaran hak asasi manusia pada guru honorer dapat terjadi. Jangan sampai ada penilaian bahwa pemerintah sengaja membuat guru-guru honorer sengsara. (*)

Share :

Baca Juga

Nasional

PT Wings Bengkulu Diduga Tolak Wartawan yang Ingin Konfirmasi Terkait Pembayaran Gaji Karyawan

Nasional

Perkuat Sinergi, DPRD dan Pemkot Gelar Halalbihalal

Nasional

Bapenda : Wajib Pajak PBB dan BPHTB Banyak Menunggak

Nasional

Hadir pada Pelantikan Partai UMMAT, Gubernur Rohidin Sambut Baik hadirnya Partai Politik di Bumi Rafflesia

Nasional

Sigap, Polisi Bubarkan Tawuran di Kota Bambu Utara Palmerah

DPD RI

Biosolar Langka, Sultan Duga Terkait Dengan Kenaikan Harga Ekspor CPO

Nasional

ASN Pemkot Kembali Dilantik, Wawako : Tak Ada Istilah Jabatan Basah dan Kering

Nasional

Terkait Polemik Pergub No 31, Ketua AMBO Ajak Semua Pihak Dapat Duduk Bersama