Home / Literasi & Opini

Jumat, 27 November 2020 - 15:40 WIB

Selamat Jalan Diego

Oleh : Zacky Antony

Ketua PWI Provinsi Bengkulu

Kabar berpulangnya Diego Maradona (30 Oktober 1960-25 November 2020) terasa mengejutkan bagi siapa saja yang mengenalnya. Tak hanya bagi warga Argentina, tapi juga bagi masyarakat dunia. Siapa sangka, berita tentang operasi gumpalan darah di otak beberapa pekan sebelumnya, adalah awal bagi kepergian sang bintang.

Maradona adalah olahragawan sekaligus seniman. Dia pintar sekaligus kontroversial. Terlahir dengan bakat yang luar biasa sebagai pemain bola, Maradona selalu menyita perhatian di manapun dirinya berada. Pesona dan kharismanya menjadi daya tarik pemberitaan pers di berbagai penjuru dunia.

Lapangan hijau adalah panggung pertunjukan bagi skill Diego yang memang di atas rata-rata. Dalam dirinya mengalir berbagai spektrum aliran yang mengundang decak kagum. Kadang dia meledak-ledak di atas lapangan. Kadang setenang lautan yang dalam. Sedalam kelihaiannya mengolah si kulit bundar.

Dia berteman dekat dengan Fidel Castro. Mantan Pemimpin Kuba yang komunis dan menjadi musuh Amerika Serikat yang kapitalis. Diego juga pengagum ikonic Amerika latin lainnya, Che Guevara, tokoh anti imperialisme dan kolonialisme.

Di atas lapangan, pemilik 91 caps dan 34 gol bersama timnas Argentina itu adalah dewa. Penampilannya selalu ditunggu-tunggu para pendukungnya. Kehadirannya dihormati kawan dan disegani lawan.

Para penikmat sepakbola acap kali berdecak kagum melihat sang legenda menggocek bola, menggiring hingga mencetak gol ke gawang lawan. Yang paling dikenal tentu saja gol ke gawang Inggris pada pertandingan perempat final Piala Dunia 1986. Dari tengah lapangan Diego menggiring bola sendirian melewati enam pemain Inggris termasuk mengecoh kiper Peter Shilton. Gol tersebut kemudian dinobatkan FIFA sebagai gol abad ini. Sejajar dengan Diego yang juga dinobatkan sebagai player of the century.

Baca Juga  Dokter d'Lois

Diego Maradona juga dikenal pencipta gol tangan tuhan. Sebelum gol spektakuler tersebut, dia membuat gol kontroversial. Sebuah gol tercipta berkat bantuan tangan. Dia melompat mendahului Peter Shilton yang berpostur lebih tinggi. Kejadian itu luput dari pandangan wasit. Dan belum ada VAR he he. Usai pertandingan Diego menyebut gol tersebut tercipta berkat tangan tuhan.

Sosoknya merupakan kombinasi kualitas skill tingkat dewa dengan kegeniusan mengatur irama pertandingan. Dia pemain sekaligus pemimpin. Aura pemimpin inilah yang membedakan Maradona dengan bintang-bintang sepakbola lain zaman itu. Sebut saja misalnya Lothar Mattheus (kapten Timnas Jerman), Michel Platini (Prancis), Paolo Rossi (Italia), Marco Van Basten (Belanda). Mereka adalah pemaian-pemain hebat. Tapi soal aura, Maradona lah orangnya.

Magnet Maradona belum bisa disamai termasuk oleh juniornya di Argentina Lionel Messi. Faktanya hingga saat ini, Messi belum bisa mempersembahkan Trophy Piala Dunia kepada publik Argentina. Begitu pun Cristiano Ronaldo.

Bagi publik Argentina, Maradona bukan hanya idola, tapi juga pemimpin. Keberadaannya jauh melampaui batas nilai-nilai seorang manusia. Sebagian bahkan sudah keterlaluan dengan menyamakan Maradona sebagai agama. Kita boleh tidak setuju. Tapi ya….itulah fenomena tentang sosok Maradona.

Dia jauh lebih terkenal dibanding atlet-atlet olahraga lainnya. Popularitasnya bahkan jauh di atas tokoh-tokoh politik. Publik di dunia belum tentu kenal siapa Presiden Argentina, tapi dunia kenal Diego Maradona. Presiden Argentina boleh terus berganti. Tapi Maradona tetap tidak tergantikan.

Baca Juga  Cara Budidaya Jamur Tiram, dan Keuntungannya

Di Napoli, Diego Maradona begitu dipuja. Dia sukses mengangkat citra Napoli dari klub gurem menjadi juara Seri A dan kampiun di Eropa. Boleh dibilang Napoli adalah cinta keduanya setelah Argentina.

Sebagai manusia biasa, Maradona tentu saja tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Dia pernah kecanduan kokain. Pukulan telak pernah dialami Argentina saat Maradona terbukti menggunakan doping saat Piala Dunia 1994 di AS. Itu adalah penampilan di Piala Dunia yang keempat bagi Maradona setelah 1982, 1986 dan 1990. Usia Maradona sudah 34 tahun ketika itu.

Bersama Maradona, Argentina menjalani dua laga awal fase grup dengan kemenangan. Yakni 4-0 lawan Yunani, di mana Maradona mencetak 1 gol melengkung lewat kaki kiri. Tiga gol lannya lewat hattrick Gabriel Batistuta. Serta kemenangan 2-0 atas Nigeria lewat brice Claudio Cannigia.

Karena ketahuan doping, Maradona dihukum larangan tampil di pertandingan berikutnya. Tanpa Maradona, Argentina kalah 0-2 lawan Bulgaria pada pertandingan ketiga face grup. Dan di perdelapan final kalah 2-3 dari Rumania. Argentina pun tersingkir.

Tapi selalu ada maaf bagi Maradona. Cinta rakyat negeri Evita Peron itu kepada Maradona begitu dalam. Memori kepahlawanannya saat memberi Thropy Piala Dunia 1986 bagi Argentina sulit untuk dihapus. Kepeduliannya pada urusan kemanusiaan, membantu anak-anak tidak mampu dan yatim-piatu adalah sisi lain membuat Maradona selalu dikenang. Wajar bila pemerintah Argentina menyatakan tiga hari berkabung nasional setelah dia wafat.

Baca Juga  Amandemen Bukan Harga Murah

Maradona pernah dipercaya menukangi Timnas Argentina untuk tampil di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Inilah kesempatan Maradona menyamai Frans Bechkenbauer. Meraih Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih. Bechkenbauer meraih Piala Dunia bersama Jerman Barat tahun 1974 sebagai pemain dan mempersembahkan Piala Dunia 1990 bagi Jerman sebagai pelatih.

Tapi bakat Maradona adalah sebagai pemain. Bukan yang lain. Meski menyapu bersih tiga laga awal di fase grup ditambah kemenangan di perdelapan final, tapi toh Argentina tetap mentok di perempatfinal. Di Grup B, Argentina menang 1-0 lawan Nigeria, 4-1 lawan Korsel dan 2-0 lawan Yunani. Di babak 16 besar, Argentina mengatasi Meksiko 3-1.

Optimisme fans Tango sempat membuncah menjelang duel klasik melawan Jerman di perempatfinal. Tapi fakta berbicara lain. Gol-gol Thomas Muller, Ane Friedrick serta brice Miroslav Klose membuat lagu “Don’t cry for me Argentina” bergema ujung bumi Afrika tersebut.

Tapi sekali lagi. Kisah sedih 2010 itu masih termaafkan. Apalagi, dua edisi berikutnya 2014 dan 2018, terbukti Argentina juga tetap gagal. Yang jadi sasaran justru Lionel Messi karena dianggap tidak mampu mengangkat moral para pemain Argentina. Kontras dengan predikatnya sebagai enam kali peraih ballon d’or.

Kini Maradona telah tiada. Pencipta gol tangan Tuhan itu kembali ke sisi Tuhan. Sebagai manusia biasa, dia tentu bukan pribadi yang sempurna. Namun bagi para pecintanya, selalu ada maaf bagi sang legenda. Kepahlawanannya menutupi kekurangan-kekurangannya.

Piece in Rest Diego Maradona.

Share :

Baca Juga

Literasi & Opini

Berpikir Hanyalah Guyonan

Literasi & Opini

Pesta Demokrasi Damai 2024

Hukum

SAMBO, ELIEZER DAN HUKUM PROGRESIF

Literasi & Opini

Rossi Lebih dari Sekedar Legenda Moto GP

Literasi & Opini

Amandemen Bukan Harga Murah

Literasi & Opini

Memperbaiki Marwah Organisasi Masyarakat Sipil dan Menegur LSM, Oknum “Lembaga Suka Meras”
Cara Budidaya Jamur Tiram, dan Keuntungannya

Literasi & Opini

Cara Budidaya Jamur Tiram, dan Keuntungannya

Literasi & Opini

Indonesiaku : Darurat Peradaban Pancasila