Home / DPD RI / Nasional

Selasa, 14 Maret 2023 - 09:40 WIB

Sultan Minta Pemerintah Cabut Penghargaan Satyalancana Wira Karya Dari Ketua Pengawas KSP Sejahtera Bersama

Jakarta – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan B Najamudin mendesak Pemerintah untuk mencabut penghargaan Satyalancana yang pernah diberikan kepada ketua pengawas koperasi simpan pinjam Sejahtera Bersama Iwan Setiawan.

Diketahui, Presiden Joko Widodo pernah memberi penghargaan Satyalancana Wira Karya kepada Ketua Pengawas KSP SB Iwan Setiawan pada Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-72 tahun 2019 lalu di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

“Harus kita akui bahwa situasi darurat koperasi saat ini merupakan kealpaan kita semua sebagai sebuah bangsa. Kami sangat prihatin dengan keadaan yang kami sebut sebagai kejadian luar biasa ini, dan berharap pemerintah segera melakukan pembaharuan perkoperasian Indonesia dengan pendekatan kebijakan yang luar biasa juga”, ungkap Sultan melalui keterangan resminya pada Senin (20/02).

Baca Juga  LaNyalla Minta Bupati Berau Perjuangkan Tenaga Kerja Lokal di Pertambangan

Sejatinya, kata mantan aktivis KNPI itu, Koperasi memiliki tujuan luhur dalam memajukan kesejahteraan anggota dan mendorong penguatan fondasi perekonomian bangsa. Kami setuju, jika para pegiat koperasi diapresiasi sebagai pejuang ekonomi kerakyatan yang berhak atas penghargaan dari negara.

Baca Juga  Dorong ASN Sejalan dengan Visi Misi Gubernur dan Wakil Gubernur, Perjanjian Kinerja Pejabat Dilakukan

“Tapi jika pelaku industri perkoperasian justru cenderung pada upaya penyalahgunaan legitimasi dan merugikan masyarakat, saya kira negara harus bertindak tegas. Bahkan jika mereka pernah dihargai dengan pengakuan sosial dan kehormatan oleh negara”, ujar Sultan.

Oleh karena itu, tambahnya, kami meminta pemerintah untuk secara tegas mencabut penghargaan Satyalancana Wira Karya dari yang bersangkutan. Saya kira Pemerintah perlu mengklarifikasi dan mengumumkan pencabutan penghargaan tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban moral kepada masyarakat khususnya para korban atas kelalaiannya dalam mengawasi aktivitas koperasi selama ini.

Baca Juga  Pemkot Akan Fokuskan Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat

“Maka sangat penting bagi Pemerintah untuk merestorasi aturan hukum koperasi yang seringkali disalahgunakan oleh oknum pemilik modal. Koperasi harus didefinisikan secara jelas dan tegas sebagai lembaga keuangan mikro yang berasaskan kekeluargaan dan gotong royong, bukan sebagai institusi bisnis”, tutupnya.

Kasus kejahatan keuangan koperasi simpan pinjam Sejahtera Bersama (KSP-SB) menjadi salah satu kasus gagal bayar yang merugikan korban sebanyak 185.000 orang dengan total kerugian mencapai Rp 8 triliun. (**)

Share :

Baca Juga

DPD RI

Safari Konstitusi, DPD RI Selenggarakan FGD di 4 Universitas

Nasional

Taman Berkas Mulai Tak Tertata, Dedy Wahyudi: Jangan Jadi Taman Baju

Nasional

Menag Himbau Umat Doakan dan Gelar Shalat Gaib untuk Awak Nanggala 402
Ganjar Pranowo Jawab Mahasiswa UI Soal Partai dan Rakyat

Nasional

Ganjar Pranowo Jawab Mahasiswa UI Soal Partai dan Rakyat

Nasional

Publik Heboh dengan Robohnya Pagar Stadion Mini di Bengkulu Saat Kunjungan Jokowi, Ada Apa,,?

Nasional

Gandeng Ormas Tekan Angka Stunting di Bengkulu

Nasional

Gubernur Rohidin Terima Baznas Award 2022 sebagai Gubernur Pendukung Gerakan Cinta Zakat

Nasional

Terkenal Semrawut, Pasar Panorama akan Segera Dikelola oleh Pihak Ketiga