Home / Literasi & Opini

Sabtu, 26 Februari 2022 - 11:28 WIB

Sundulan Gusnan Gundul


Catatan Zacky Antony

DALAM sepakbola, gol bisa tercipta dari sundulan. Selain lewat sepakan kiri dan kanan. Bak sundulan dalam olahraga sebelas lawan sebelas itu, Gusnan Gundul menyoroti konglomerasi. Gusnan Gundul adalah panggilan gaul Bupati Bengkulu Selatan Gusnan Mulyadi. Panggilan itu muncul dari tampilan kesehariannya berkepala gundul.

Jebolan Fakultas Ekonomi Unib ini mengaku prihatin dengan cengkeraman konglomerasi yang semakin kuat menancapkan kukunya di daerah. Konglomerasi ritel di Kota Bengkulu bahkan sudah berdampak tumbangnya sejumlah usaha ritel lokal. Ada yang sekarat, hingga akhirnya mati. “Tapi itu tidak akan terjadi di Bengkulu Selatan,” tukas Gusnan Mulyadi.

Gusnan mengusung konsep ekonomi kerakyatan sebagai salah satu program unggulannya. Salah satu dalam wujud Kios Sekundang. Menurutnya, perlu ada dukungan (support) dan perlindungan (protect) terhadap usaha-usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) dari serbuan konglomerasi.

Gusnan mengaku tidak anti konglomerasi. Bagaimanapun daerah butuh investasi masuk. Tapi konglomerasi boleh masuk Bengkulu Selatan, dengan catatan tidak “membunuh” usaha kecil dan menengah.

Godaan Rupiah

Ada cerita menarik soal konglomerasi tadi. Menurut Gusnan, masuknya jaringan konglomerasi di suatu daerah bisa dengan berbagai cara. Di situlah kepala daerah diuji keimanannya.

Gusnan mengaku ada pihak tertentu yang mengiming-imingi rupiah untuk membuka izin yang sekarang sedang disetop. “Tapi saya tidak tertarik dengan iming-iming rupiah tersebut,” tegasnya.

Kalau saja tergiur dengan iming-iming rupiah tersebut, Gusnan bisa meraup fulus hingga miliaran rupiah. “Itu kalau saya mau. Tapi saya tolak,” katanya.

Baca Juga  Analisis Keberadaan Pertambangan Batu Bara di Provinsi Bengkulu Ditinjau dari Persfektif Pendapatan Asli Daerah Versus Pencemaran Lingkungan

Sundul Bank Bengkulu

Gusnan juga menyundul kinerja Bank Bengkulu yang dinilai beraninya hanya main aman mengandalkan kredit pinjaman bagi PNS. Tapi kurang berani berani masuk ke sektor ril yang justru lebih dibutuhkan dalam menggerakkan ekonomi rakyat.
“Bank Bengkulu harus berani masuk ke sektor ril,” ujarnya dalam diskusi di Rumah Dinas Bupati Bengkulu Selatan Selasa siang.

Dia meminta jajaran bank daerah pelat merah itu segera berbenah dan beradaptasi dengan perubahan zaman yang demikian cepat. Perbaikan itu baik menyangkut peningkatan pelayanan terhadap nasabah dan calon nasabah. Manajemen perkantoran dan keuangan yang harus transparan dan accountable. Hingga pada strategi marketing yang harus beradaptasi pada era digitalisasi.
“Kalau tidak mau berbenah, maka (Bank Bengkulu) akan tergilas,” ujar Gusnan kembali melempar sundulan.

Yang bikin pusing para direksi, Bank Bengkulu harus mengikuti peraturan baru OJK No 12/2020 Tentang Konsolidasi Bank Umum, yang menaikkan ketentuan modal inti minimum dari Rp 1 triliun menjadi Rp 3 triliun. Kewajiban pemenuhan modal inti Rp 3 triliun itu memang bisa secara bertahap selama 3 tahun. Yakni sampai 31 Desember 2022.

Tapi khusus kategori Bank Pembangunan Daerah punya tenggat waktu hingga 31 Desember 2024 untuk memenuhi ketentuan modal minimum Rp 3 triliun.

Modal inti bank adalah keseluruhan modal yang dimiliki bank untuk menjalankan kegiatan usaha bank. Meliputi modal disetor ditambah keuntungan yang diperoleh setelah dipotong pajak. Modal inti sangat menentukan luas dan jangkauan kegiatan usaha bank.

Baca Juga  Survey Pengetahuan, Masjid Tertua di Kota Bengkulu? Jawab di Sini

Bagaimana Bank Bengkulu? Jangankan modal Rp 3 triliun. Untuk mencapai modal inti Rp 1 triliun masih keteteran. Perlu usaha sangat keras untuk mengejar ketentuan minimum aturan baru OJK tersebut.

Sempat muncul solusi melalui penempatan modal dari Chairul Tanjung grup senilai itu. Namun belakangan solusi itu tidak bisa dijalankan karena tidak mendapat persetujuan OJK. Aksi korporasi tersebut dianggap bisa membuka pintu swastanisasi pada bank pelat merah.

Lalu apa solusinya? “Itulah tugas utama Dirut baru nanti,” kata Gusnan.

Pria yang mengawasli karir sebagai PNS di Pemkot Bengkulu pada tahun 1997 ini menaruh perhatian serius terhadap kelanjutan nasib Bank Bengkulu. Wajar karena dia putra asli Bengkulu dan berlatarbelakang pendidikan ekonomi. Dia lahir di Manna 28 Agustus 1968.

Gusnan adalah kepala daerah produk lokal perguruan tinggi di Bengkulu. Dia tamatan Fakultas Ekonomi Unib. Dia melanjutkan pendidikan S2 juga di almamater yang sama. Sedangkan pendidikan SD, SMP dan SMA ditamatkan di kota kelahirannya Manna.

Setelah masuk PNS pada zaman Walikota Bengkulu Chairul Amri, Gusnan menyalurkan jiwa enterpreneurshif dengan membuka sejumlah usaha di bawah naungan PT. Mulia Lintas Pertiwi. Di perusahaan itu Gusnan menjadi komisaris sejak 2003 sampai 2015. Pada tahun yang sama dia juga mundur dari PNS Pemkot Bengkulu. Tapi setahun kemudian dia menjadi Wakil Bupati Bengkulu Selatan sampai 2019. Dan menjadi Bupati Bengkulu Selatan sampai sekarang.

Dari sang istri Nurmalena, Gusnan dikaruniai 3 orang anak masing-masing Annisa Kusuma Pratiwi Mulya, Muhammad Alfa Mulya, dan Annisa Sekar Mulya.

Baca Juga  KUNCI MATI; Membaca Sholat ala Azam (3)

Tergantung Input

Obrolan yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu tidak terasa. Ditanya tentang proyeksi langkah politiknya kedepan, secara diplomatis dia berujar ingin fokus dan konsentrasi menyelesaikan tugas sebagai Bupati sampai selesai masa jabatan. Berikutnya, Tuhan sudah mengatur semuanya.
“Apakah 3 jam setelah ini kita akan tahu apa yang akan terjadi pada kita? Manusia tidak akan pernah bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya pada hari esok. Yang bisa kita lakukan adalah berbuat yang terbaik pada hari ini,” katanya.

Karena itu dia mengusung konsep pribadi, output akan sangat tergantung pada input. Kalau input nya adalah berpikir positif, berbuat kebaikan, fokus, disiplin, etos kerja tinggi, taat beribadah, peduli, mau bekerjasama, tidak egois dll, maka output adalah kesuksesan.

Sebaliknya, kalau inputnya membenci orang, mendendam, membohongi, berbuat curang, malas, tidak disiplin, kurang mau belajar, tidak punya motivasi dll, maka sudah bisa ditebak out put nya adalah kegagalan.

Sekarang kita tinggal pilih. Input apa yang mau kita tanam dalam kehidupan kita?

Gusnan lalu menutup diskusi dengan sundulan terakhir. Tapi kali ini lebih kepada sundulan batin. Dia mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan Ahmad.

“Aku sesuai persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.”

Penulis adalah Wartawan Senior yang juga Ketua Dewan Kehormatan PWI Provinsi Bengkulu

Share :

Baca Juga

Bengkulu

Indonesiaku : Darurat Peradaban Pancasila

Bengkulu

Industri Pilkada

Bengkulu

Ikhlas dan Takdir

Literasi & Opini

Kelangkaan Minyak Goreng Akibat Akumulasi Amburadulnya Tata Kelola Sawit di Indonesia

Bengkulu

Berpikir Hanyalah Guyonan

Literasi & Opini

Statement Bijak Gubernur Tentang Anak Pembully

Bengkulu

Analisis Pengaruh Kemampuan Membaca Al-Qur’an dengan Kemampuan Matematis Mahasiswa Tadris Matematika IAIN Bengkulu

Bengkulu

Maradona, Cinta dan Nasionalisme

Bengkulu

Kemajemukan dalam Demokrasi Kita

Bengkulu

Pemuda dan Lingkungan

Bengkulu

Jalan Lurus; Membaca Sholat ala Azam (4)

Literasi & Opini

Perlukah Pilkades Masuk di Rezim Pemilu?

Bengkulu

Transisi Demokrasi

Literasi & Opini

Asa Rakyat Bumi Etam Dibalik Pemindahan IKN