Pendemo dan Aparat: Jangan Mudah Terprovokasi

Foto Tangkapan Layar Video Kompas
Oleh: Deni Irwansyah
Demonstrasi salah satu wajah demokrasi. Rakyat turun ke jalan bukan untuk membuat onar, melainkan menyuarakan keresahan dan menuntut perubahan yang lebih baik. Aksi damai seharusnya menjadi ruang aspirasi yang sehat, bukan ajang benturan.
Namun, dalam setiap aksi damai selalu ada pihak yang berusaha memanfaatkan situasi. Provokator kerap menyusup, memancing emosi massa, lalu menggeser jalannya aksi dari damai menjadi ricuh. Inilah yang paling berbahaya, karena kericuhan hanya akan merusak citra pendemo sekaligus menimbulkan ketegangan dengan aparat.
Pakar keamanan Prof. Andi Widjajanto pernah mengingatkan bahwa pola provokasi dalam demo hampir selalu sama: aksi dimulai damai, lalu muncul kelompok kecil yang melakukan tindakan anarkis agar massa terpancing. Jika massa tidak waspada, tuntutan utama pun hilang, berganti dengan citra negatif. Senada dengan itu, pengamat politik Rocky Gerung menilai bahwa provokator selalu punya kepentingan untuk mengaburkan substansi gerakan. Jika terjebak, aspirasi rakyat tidak lagi terdengar, yang tersisa hanyalah kericuhan.
Karena itu, baik pendemo maupun aparat harus tetap fokus. Pendemo fokus pada tuntutan utama, sementara aparat fokus pada pengamanan humanis. Jangan sampai aspirasi yang murni berubah isu menjadi pelanggaran HAM akibat gesekan di lapangan. Di sisi lain, intelijen negara juga perlu bekerja mendalam untuk mengungkap siapa aktor di balik kericuhan. Kita semua tahu, ada pihak-pihak yang justru menginginkan negeri ini hancur dengan menunggangi aksi damai.
Aksi damai adalah hak rakyat, pengamanan adalah kewajiban aparat, dan keduanya sama-sama untuk kepentingan bangsa. Jangan biarkan provokasi mengaburkan cita-cita bersama. Kita semua ingin Indonesia maju, dan itu hanya mungkin tercapai bila pendemo dan aparat bersatu menjaga kedamaian.