Di sebuah desa kecil yang tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Hasan. Ia terkenal rajin bekerja dan pantang menyerah. Setiap pagi ia berangkat ke sawah sebelum matahari terbit, berharap panennya tahun ini akan berlimpah.
Namun, pada suatu musim, hujan tak kunjung turun. Tanaman padi menguning sebelum waktunya. Hasan pun duduk termenung di tepi pematang, hatinya gundah.
“Kenapa begini, ya Allah? Aku sudah bekerja keras, tapi kenapa hasilnya seperti ini?” keluhnya.
Di tengah rasa kecewa itu, datanglah seorang lelaki tua, Ustaz Hamid, yang bijak dan dihormati penduduk desa. Ia tersenyum, duduk di samping Hasan, lalu berkata,
“Hasan, tahukah engkau bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah SWT sebelum engkau lahir?”
Hasan menunduk. “Aku tahu, Ustaz… tapi tetap saja rasanya berat.”
Ustaz Hamid tersenyum lagi. “Dulu, Umar bin Khattab RA pernah berkata:
> ‘Jika sesuatu ditakdirkan menjauh darimu, ia tidak akan pernah datang. Dan jika ia ditakdirkan bersamamu, engkau tak akan bisa lari darinya.’
Itulah sebabnya kita tidak boleh terlalu keras pada diri sendiri ketika hasil tak sesuai harapan. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya serahkan pada Allah.”
Hasan terdiam. Kata-kata itu menenangkan hatinya.
Ustaz Hamid kemudian mengutip firman Allah:
> ‘Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya…’ (QS. Al-Hadid: 22)
“Hasan,” lanjut Ustaz Hamid, “tugas kita adalah ikhtiar sebaik mungkin. Setelah itu, jika hasilnya berbeda dengan keinginan kita, yakinlah Allah sudah memilih yang terbaik. Kadang, Allah menahan sesuatu karena Dia ingin memberi kita yang lebih baik, atau menyelamatkan kita dari keburukan yang tidak kita sadari.”
Hasan mengangguk pelan. “Jadi, aku tidak boleh menyerah, tapi juga tidak boleh protes pada takdir?”
“Benar,” jawab Ustaz Hamid. “Rasulullah SAW juga bersabda:
> ‘Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa…’ (HR. Tirmidzi)
Artinya, kita boleh terus berdoa dan berusaha, tapi hati tetap tenang menerima apa pun yang Allah tetapkan.”
Hari itu, Hasan pulang dengan hati lebih lapang. Ia kembali bekerja di sawahnya, bukan lagi dengan hati penuh cemas, tapi dengan keyakinan bahwa setiap tetes keringatnya tidak akan sia-sia di sisi Allah SWT. Ia tahu, apa pun hasilnya, itulah yang terbaik menurut Sang Pencipta.
Hikmah dari Kisah Ini:
1. Semua sudah tertulis di Lauh Mahfuz.
2. Kita wajib berikhtiar dan berdoa.
3. Tawakal berarti menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.
4. Ridha pada takdir akan membuat hati tenang.









