Rejang Lebong, ri-media.id – 27 September 2025. Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Rejang Lebong Jumat (26/9/2025) sore menyebabkan sejumlah titik kawasan perkantoran dan permukiman warga tergenang air. Fenomena tersebut kembali menyerukan satu pesan serius: kebersihan lingkungan bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Rejang Lebong HM Fikri Thobari secara terbuka mengimbau camat, lurah, perangkat desa/kelurahan, serta unsur masyarakat seperti ketua RT/RW untuk bergerak cepat dan bersinergi melakukan gotong-royong membersihkan drainase dan saluran air di wilayah masing-masing. Menurutnya, bila dibiarkan, endapan sedimen dan sampah yang menumpuk akan menjadi penyebab tersumbatnya aliran air dan memperparah risiko banjir.
“Para camat bersama lurah, RW, dan RT perlu menggerakkan masyarakat untuk gotong royong membersihkan drainase. Sementara itu, Dinas PU akan mencari solusi pembangunan jangka panjang,” tegas Bupati Fikri.
Tiga Permasalahan Utama di Lapangan
Dari hasil pengecekan lapangan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), ditemukan tiga akar masalah krusial:
1. Endapan sedimen di saluran drainase telah cukup tinggi, menyulitkan aliran air.
2. Kapasitas saluran drainase yang kecil tak mampu menampung volume air hujan yang meningkat.
3. Intensitas hujan tinggi dalam periode singkat mengakibatkan debit air meningkat drastis sehingga sistem lama kewalahan.
Faktor utama penyebab banjir, selain hujan lebat, juga adalah sampah yang dibuang sembarangan. Bila sampah berceceran di sepanjang jalan dan tepi sungai, peluang tersumbatnya saluran air menjadi sangat besar. Bupati Fikri secara tegas mengingatkan bahwa penanganan sampah bukan hanya urusan kebersihan estetika, tapi juga kunci mitigasi bencana banjir.
Kominfo: Gencar Sosialisasi, Kolaborasi Komunitas
Dalam upaya memperluas jangkauan edukasi dan kampanye kebersihan, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rejang Lebong turut dilibatkan untuk menyebarkan informasi secara massif. Kepala Dinas Kominfo, Dra Upik Zumratul Aini MSi, menyatakan bahwa sosialisasi akan dilakukan melalui berbagai kanal — mulai dari media massa konvensional, media sosial, hingga jalur informal di desa/kelurahan melalui Kelompok Informasi Masyarakat (KIM).
“Kami akan menyosialisasikan persoalan penanganan banjir dan sampah kepada OPD, camat, kelurahan, maupun KIM di desa dan kelurahan,” ujarnya.
Langkah ini penting agar pesan kebersihan lingkungan tidak sekadar seruan di waktu bencana, melainkan menjadi budaya sehari-hari.
Ancaman Cuaca Masih Terus Mengintai
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), intensitas hujan tinggi masih berpotensi berlangsung beberapa hari ke depan di wilayah Rejang Lebong. Pemerintah daerah meminta masyarakat untuk tetap waspada, terutama dalam menjaga kebersihan saluran air dan memastikan drainase di sekitar rumah tetap steril dari sampah atau penghalang lainnya.
Warga diimbau agar tidak membuang sampah sembarangan, dan bila memungkinkan ikut serta dalam program gotong-royong lanjutan bersama perangkat wilayah. Karena satu plastik yang menyumbat bisa menjadi pemicu kejadian alam yang jauh lebih besar.
Mengapa Kebersihan Lingkungan Sangat Penting?
Berikut beberapa alasan mengapa menjaga kebersihan lingkungan harus menjadi prioritas bersama:
Menekan Risiko Bencana: Sampah yang menyumbat selokan/saluran memperparah risiko banjir, terutama saat hujan lebat.
Kesehatan Masyarakat: Sampah yang menumpuk dapat menjadi tempat berkembang biak vektor penyakit (nyamuk, tikus, lalat).
Estetika dan Pariwisata: Kota atau desa yang bersih lebih menarik bagi wisatawan dan meningkatkan rasa bangga warga terhadap lingkungan mereka.
Ketahanan Lingkungan: Lingkungan yang bersih meminimalkan dampak pencemaran air dan tanah, serta menjaga ekosistem lokal.
Budaya Gotong-Royong: Kegiatan bersama membangun solidaritas sosial dan memperkuat ikatan dalam masyarakat.
Tantangan & Langkah Strategis ke Depan
Tentu saja, menjalankan kampanye kebersihan lingkungan bukan tanpa tantangan:
Kesadaran Individu: Masih ada warga yang merasa “buang sampah urusan petugas,” padahal partisipasi aktif sangat dibutuhkan.
Fasilitas Pemrosesan Sampah: Kurangnya tempat pembuangan akhir (TPA) yang memadai atau sistem pengelolaan sampah lokal.
Dukungan Anggaran: Pemeliharaan saluran drainase dan pembangunan sistem drainase baru memerlukan dana berkelanjutan.
Koordinasi Lintas Sektor: Kebersihan bukan hanya tanggung jawab satu dinas, melainkan harus melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, tata kota, lingkungan, dan instansi teknis.
Mengacu arahan Bupati, Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong perlu menyusun roadmap jangka menengah dan panjang:
Renovasi dan perluasan drainase kritis di titik rawan banjir.
Peningkatan kapasitas pengolahan sampah desa, termasuk bank sampah dan pemilahan di hulu.
Program edukasi terus-menerus ke sekolah, organisasi masyarakat, dan kelompok keagamaan agar budaya kebersihan melekat sejak dini.
Insentif atau penghargaan bagi desa/kelurahan yang berhasil mempertahankan lingkungan bersih.
Seruan Untuk Semua – Mari Bersama Menjaga Lingkungan
Jika pemerintah dan masyarakat bergerak sinergis, dampaknya akan terasa nyata: banjir berkurang, lingkungan asri terjaga, kesehatan membaik, dan solidaritas sosial meningkat.
Kini waktunya tidak hanya menunggu hujan reda, tapi melakukan aksi nyata setiap hari:
Mulailah dari rumah – jaga selokan depan rumah tetap terbuka, bersihkan saluran air kecil.
Kurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memilah sampah sebelum dibuang.
Ikut dalam gotong-royong lokal, ajak tetangga dan warga sekitar.
Laporkan titik rawan atau saluran tersumbat kepada tokoh lingkungan, RT/RW, atau Dinas Lingkungan Hidup setempat.
Semoga air hujan yang turun di Rejang Lebong semakin menjadi berkah, bukan ancaman. Dan semoga kesadaran akan kebersihan lingkungan menyebar dan membumi — menjadi warisan bagi generasi mendatang. (**)
Editor: Redaksi










