Ditulis oleh:
Deni Irwansyah
Istriku, kepergianmu adalah pengingat paling nyata bahwa hidup ini sepenuhnya berada dalam genggaman Allah. Impian masa depan yang pernah kita susun bersama – tentang hari tua, tentang tawa anak-anak, tentang kebersamaan sederhana – kini terhenti bukan karena rencana kita gagal, melainkan karena Allah memiliki ketetapan yang lebih dahulu ditulis. Di hadapan takdir ini, aku belajar bahwa manusia hanya mampu merencanakan, sementara Allah-lah yang menentukan segalanya dengan penuh hikmah.
Takdir kepergianmu bukanlah kebetulan. Ia adalah janji Allah yang telah tertulis jauh sebelum kita mengenal dunia. Tidak ada satu jiwa pun yang akan mendahului atau mengakhirkan ajalnya walau hanya sedetik. Berat rasanya menerima kenyataan ini, namun iman mengajarkan bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung kebaikan, meski terkadang tidak langsung dapat dipahami oleh hati yang sedang berduka.
Aku sempat bertanya dalam diam, mengapa impian itu harus pupus secepat ini. Namun seiring waktu, aku menyadari bahwa Allah tidak pernah salah dalam memilihkan jalan untuk hamba-Nya. Jika Allah mengambilmu lebih dulu, bukan berarti Dia merampas kebahagiaan kami, melainkan Dia sedang menyiapkan kebahagiaan yang lebih besar di sisi-Nya. Apa yang tampak sebagai kehilangan bagi kami di dunia, bisa jadi adalah kemuliaan bagimu di akhirat.
Tenanglah engkau di alam sana, istriku. Kami yang ditinggalkan akan terus melangkah, meski tertatih, dengan doa-doa yang tak pernah putus mengalir untukmu. Anak-anak akan aku jaga dan didik dengan nilai-nilai yang pernah engkau tanamkan: kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Engkau mungkin telah tiada secara jasad, namun teladan hidupmu tetap hidup dalam keseharian kami.
Kesabaranmu dalam rumah tangga adalah warisan paling berharga. Keikhlasanmu melayani keluarga tanpa banyak keluh, keteguhanmu menghadapi sakit, serta caramu menerima ujian Allah dengan lapang dada – semua itu menjadi cermin bagi kami tentang arti iman yang sesungguhnya. Engkau mengajarkan bahwa cinta sejati tidak selalu diukur dari kata-kata, tetapi dari ketulusan berjuang dan bertahan dalam keadaan tersulit.
Sakit yang engkau alami bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kasih sayang Allah yang ingin menghapus dosa dan mengangkat derajatmu. Setiap rasa perih yang engkau tanggung dengan sabar menjadi saksi di hadapan Allah. Kini aku yakin, tidak ada satu pun air mata kesabaranmu yang sia-sia. Semuanya telah dicatat sebagai kebaikan yang akan engkau petik di akhirat kelak.
Cintaku padamu tidak akan hilang oleh waktu. Ia tidak luruh oleh jarak antara dunia dan alam kubur. Cinta itu akan terus hidup dalam doa, dalam kenangan, dan dalam ikhtiar ku membesarkan anak-anak agar menjadi amal jariyah untukmu. Jika hari ini kita dipisahkan oleh takdir, maka aku percaya Allah mampu mempertemukan kembali hamba-hamba-Nya yang saling mencintai karena-Nya.
Kami percaya, perpisahan ini hanyalah sementara. Jika Allah mengizinkan, jika Dia meridhai, kita akan berkumpul kembali bukan dalam kesedihan, melainkan dalam kebahagiaan yang sempurna di surga-Nya Allah. Di sana tidak ada lagi sakit, tidak ada air mata, dan tidak ada perpisahan – yang ada hanyalah ketenangan dan cinta yang disempurnakan oleh rahmat-Nya.
Tulisan ini bukan sekadar ungkapan kehilangan, tetapi pengingat untuk diri sendiri dan siapa pun yang membaca: jangan terlalu menggenggam dunia, karena segala yang kita miliki hanyalah titipan. Peganglah iman, sabar, dan ikhlas, sebab itulah bekal yang akan menemani kita saat seluruh rencana manusia harus tunduk pada ketentuan Allah.
Semoga Allah menerima seluruh amal baikmu, mengampuni segala kekhilafanmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga kami yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk melanjutkan hidup dalam ridha dan petunjuk-Nya, hingga kelak dipertemukan kembali dalam keabadian atas izin Allah SWT.









