Makassar, ri-media.id – 5 Agustus 2025
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengajak perguruan tinggi untuk aktif berkolaborasi dengan pemerintah dalam upaya memperkuat dan merevitalisasi sistem pendidikan nasional. Ajakan ini disampaikan saat ia menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-64 Universitas Negeri Makassar (UNM), Selasa (5/8/2025).

“UNM harus menjadi ruang lahirnya guru-guru cerdas, ilmuwan berintegritas, dan cendekiawan yang bersahaja,” tegas Mu’ti dalam pidatonya.

Perguruan Tinggi Punya Peran Strategis

Mu’ti menekankan pentingnya peran strategis perguruan tinggi, tidak hanya sebagai lembaga pencetak tenaga pendidik, tetapi juga sebagai motor penggerak kualitas pembelajaran. Melalui inovasi, riset, dan penguatan kapasitas pendidikan dasar dan menengah, kampus harus menjadi aktor penting dalam transformasi pendidikan.

Dalam paparannya, Mu’ti menjelaskan beberapa program prioritas Kemendikdasmen yang tengah dijalankan. Fokus utama diarahkan pada:

Revitalisasi fisik dan kualitas sekolah, khususnya di daerah tertinggal

Pelatihan guru berbasis kebutuhan kekinian, seperti kecerdasan buatan (AI), literasi digital, dan konseling

Penguatan PAUD dan wajib belajar 13 tahun, melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga agar layanan pendidikan anak usia dini tersedia di seluruh desa

“Mulai Agustus 2025, ribuan guru honorer akan menerima bantuan langsung ke rekening mereka. Ini bagian dari upaya nyata kami meningkatkan kesejahteraan pendidik,” tambahnya. Dilangsir dari: Indonesia.go.id

AI dan Masa Depan Pendidikan

Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti juga menjadi pembicara kunci dengan tema “Artificial Intelligence dan Masa Depan Pendidikan Indonesia.” Ia menegaskan bahwa AI harus dipahami sebagai alat bantu, bukan pengganti guru. Pendidikan masa depan, menurutnya, harus membekali siswa dengan kemampuan memanfaatkan teknologi secara etis, kreatif, dan produktif.

Dua siswi, Kaila Aqilah dari Pesantren Darul Arqam dan Nur Athiyah Mufidah dari Muhammadiyah Cece, turut membagikan pengalaman mereka menggunakan AI dalam proses belajar.

“Kalau tidak paham pelajaran, kami tanya ke AI. Sangat membantu,” kata Kaila.
“AI bagus, tapi jangan disalahgunakan untuk menyontek,” tambah Athiyah.
Keduanya mendukung integrasi AI dan coding dalam kurikulum nasional.

Pendidikan Berbasis Nilai dan Konteks Lokal

Selain penguasaan teknologi, Mu’ti menegaskan pentingnya pembentukan karakter, kepemimpinan, dan semangat kolaborasi dalam pendidikan.

“Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan. Kita ingin anak-anak tumbuh dengan integritas, empati, dan kemampuan hidup dalam masyarakat yang plural,” ujar Mu’ti.

Ia juga mengajak perguruan tinggi untuk terlibat langsung dalam pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis potensi lokal. Menurutnya, lulusan SMK harus siap kerja sekaligus mampu menciptakan peluang usaha dari sumber daya daerah masing-masing.

“Kolaborasi antara kampus dan SMK adalah jalan strategis untuk mewujudkan pendidikan vokasi yang kontekstual dan adaptif terhadap kebutuhan lokal,” pungkasnya. (**)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *