Oleh: Deni Irwansyah

Ditulis untuk Menyambut Ramadan, mari saling menjaga dan menyayangi keluarga selagi masih bersama.

Ramadan kembali datang.
Namun kali ini, ia tidak mengetuk pintu dengan suara yang sama.

Dulu, engkau yang pertama kali membangunkanku untuk sahur. Dengan suara pelan, dengan sentuhan lembut, dengan senyum yang bahkan dalam keadaan mengantuk tetap terlihat indah. Kini, alarm yang berbunyi. Sunyi yang menjawab. Dan meja makan yang terasa terlalu luas untuk satu orang.

Untuk istriku yang telah lebih dulu pulang kepada Allah, Ramadan selalu menjadi musim rindu. Setiap ayat yang kubaca dalam salat, ada namamu yang ikut kuhadirkan. Setiap doa selepas salat, air mata selalu menemukan jalannya sendiri.

Aku baru benar-benar memahami arti kebersamaan setelah kehilangan.
Kesempatan memang tidak pernah datang dua kali.

Dulu kita mungkin pernah berbeda pendapat. Pernah lelah. Pernah jengkel. Tapi kita selalu punya esok untuk memperbaiki. Kini, tak ada lagi esok bersamamu. Yang ada hanya doa, doa, dan doa.

Ramadan mengajarkan bahwa hidup hanyalah persinggahan. Kita semua sedang menunggu giliran pulang.

Untuk kamu yang akan bersamaku, aku ingin engkau tahu satu hal: aku belajar dari kehilangan. Jika Allah takdirkan kita bersama, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.

Ini bukan tentang mencari pengganti. Ini tentang melanjutkan perjalanan dengan niat yang lebih bersih. Tentang membangun rumah yang dindingnya bukan sekadar bata dan semen, tetapi sabar dan iman.

Belajarlah dari rumah tangga yang dibangun oleh Khadijah binti Khuwailid bersama Rasulullah. Cinta mereka bukan sekadar kata “sayang,” melainkan dukungan di saat lemah, penguat di saat goyah. Atau tentang kelembutan ilmu dan kecerdasan hati Aisyah binti Abu Bakar, yang menjadikan rumah sebagai pusat cahaya.

Aku tidak menjanjikan hidup tanpa ujian. Tidak ada rumah yang tanpa badai. Tetapi aku berjanji, jika Allah izinkan kita bersama, kita akan saling menjaga selagi ada waktu. Tidak menunda maaf. Tidak menahan pelukan. Tidak membiarkan gengsi mengalahkan kasih sayang.

Karena aku tahu betul, ketika seseorang telah pergi, yang tersisa hanyalah sesal.

Untuk anak-anakku, buah hatiku, alasan ayah tetap berdiri meski hati pernah runtuh.

“Kalian mungkin melihat ayah tegar. Tapi kalian tidak tahu betapa beratnya menjalani hidup pertama tanpa ibu. Yang ayah bayangkan Betapa sunyinya lebaran tanpa suara takbir yang dulu ia gemakan bersama kita.

Ayah tidak ingin hanya memberi kalian ikan. Ikan akan habis. Kenyamanan bisa lenyap. Dunia bisa berubah dalam satu malam. Ayah ingin memberi kalian pancing. Pancing berupa ilmu, keberanian, dan iman.

Karena hidup ini seperti lautan. Kadang tenang, kadang menggulungkan ombak. Tanpa pancing, kalian hanya menunggu belas kasihan. Dengan pancing, kalian mampu bertahan.

Jaga iman kalian. Jaga salat kalian. Jaga akhlak kalian. Karena harta bisa dicari, jabatan bisa datang dan pergi, tapi iman adalah satu-satunya yang akan menemani kalian di liang kubur nanti.

Ayah tidak selalu bisa ada di setiap langkah kalian. Tapi ayah ingin kalian selalu merasa bahwa doa ayah menyertai.

Ramadan membuat hati lebih lembut. Kita jadi mudah menangis. Mudah teringat pada mereka yang telah pergi. Kursi kosong di ruang makan terasa seperti pelajaran paling keras tentang waktu.

Selagi masih bersama-jagalah.

Jangan menunda kata “maaf.”
Jangan pelit mengatakan “aku mencintaimu.”
Jangan terlalu sibuk mencari dunia sampai lupa menggenggam tangan orang yang duduk di sebelahmu.

Karena saat napas sudah terhenti, tak ada lagi kesempatan memperbaiki.

Penyesalan selalu datang setelah semua terlambat.

Mungkin hari ini kita masih bisa berbagi saat makan. Masih bisa tertawa selepas salat. Masih bisa saling menyuapi dalam setengah sadar. Hargai itu. Syukuri itu. Peluk mereka lebih lama.

Sebab suatu hari nanti, mungkin kita yang akan lebih dulu pergi. Dan yang tersisa hanyalah doa dari mereka yang pernah kita jaga-atau mungkin tangis penyesalan karena kita kurang menjaga.

Semoga Allah menguatkan hati kita untuk mencintai dengan cara yang diridhai-Nya.
Menjaga dengan iman.
Mendidik dengan kasih sayang.
Dan melepas dengan doa.

Karena pada akhirnya, cinta sejati bukan tentang memiliki selamanya di dunia.
Tetapi tentang berharap izin Allah bisa mempertemukan kembali di surga.

Penulis: Deni IrwansyahEditor: Deni Irwansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *