Oleh: Deni Irwansyah

Di tengah menjamurnya media massa di era digital, ada satu ancaman serius yang merusak dari dalam – wartawan amplop, atau yang dikenal sebagai wartawan bodrek. Mereka bukan hanya mencoreng profesi jurnalis, tetapi juga menjadi perusak perusahaan pers.

Oknum seperti ini ibarat virus di tubuh media. Mereka menyamar sebagai wartawan, namun sesungguhnya hanyalah pemburu amplop yang menjadikan profesi pers sebagai alat mencari keuntungan pribadi. Mereka datang ke acara bukan untuk meliput berita, melainkan untuk menadahkan tangan. Mereka tidak membawa manfaat bagi perusahaan, justru menciptakan kerugian moral, reputasi, dan kepercayaan publik.

Parahnya lagi, wartawan model seperti ini sering kali ada di sekitar kita. Mereka rajin hadir di lapangan, tampil percaya diri, membawa kartu pers, namun minim karya dan minim etika. Liputan yang mereka buat tidak berdasar pada fakta, tapi pada seberapa tebal amplop yang diterima. Di hadapan publik, mereka seolah mewakili media, padahal yang mereka wakili hanyalah kepentingan perut sendiri.

Perilaku semacam ini adalah penghianatan terhadap profesi dan perusahaan pers. Bagaimana mungkin media ingin dipercaya, jika di dalamnya masih ada oknum yang menjual nama perusahaan untuk memeras ? Ini bukan hanya soal etika, tetapi juga soal harga diri dan kehormatan institusi pers itu sendiri.

Padahal, jurnalisme sejati berdiri di atas prinsip integritas, keberanian, dan tanggung jawab moral. Wartawan seharusnya menjadi penjaga kebenaran dan penyampai informasi yang mencerahkan masyarakat. Namun karena ulah segelintir oknum bodrek ini, citra wartawan yang seharusnya terhormat justru menjadi bahan ejekan di mata publik.

Akibatnya, perusahaan media dirugikan. Reputasi rusak, kredibilitas jatuh, dan kerja keras wartawan-wartawan idealis menjadi sia-sia. Satu oknum bisa merusak seluruh nama baik redaksi. Inilah yang membuat dunia pers hari ini berada di persimpangan antara idealisme dan kepentingan pribadi.

Kini, sudah saatnya semua pihak di dunia pers berbenah. Organisasi wartawan, pimpinan redaksi, hingga lembaga media harus berani menindak tegas mereka yang mencederai profesi dengan perilaku amplop. Tidak boleh lagi ada toleransi bagi wartawan yang menjual marwah jurnalistik demi rupiah.

Wartawan sejati bekerja dengan pena dan nurani, bukan dengan tangan yang menadahkan amplop. Mereka mencari kebenaran, bukan keuntungan.

Karena jika dunia pers terus membiarkan parasit ini hidup, maka kehormatan profesi akan mati perlahan. Dan ketika pers kehilangan kehormatan, bangsa pun kehilangan salah satu tiang penopang moralnya.

Sudah waktunya bersih-bersih.
Sudah waktunya mengembalikan marwah pers Indonesia – bebas dari wartawan amplop dan bodrek berkedok jurnalis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *