Bupati Fikri & Wabup Hendri Praja Hadir Menyentuh Hati Warga Rejang Lebong
Rejang Lebong, ri-media.id – Rabu, 8 Oktober 2025. Di sebuah desa kecil, Tanjung Beringin, Kecamatan Curup Utara, tampak suasana penuh haru ketika Bupati Rejang Lebong, H. M. Fikri Thobari, S.E., M.AP., dan Wakil Bupati Dr. H. Hendri Praja, S.STP., M.Si., datang menyalurkan bantuan yang tak sekadar berupa uang atau material, namun berupa kepedulian nyata kepada warga yang sangat membutuhkan.
Mereka menyambangi dua keluarga yang tengah merintih dalam kesulitan: keluarga dari Fikri Al Bukhori (6 tahun) dan keluarga dari Nazwa Nazira (5 tahun) – dua anak kecil, dua kisah perjuangan, satu harapan agar hidup mereka sedikit lebih ringan.
Kisah 1: Fikri Al Bukhori – Rumah Ambruk, Harapan Tersisa
Fikri kecil tinggal bersama Titin Sumarni dan suaminya di rumah yang sudah rapuh, di perumahan transmigrasi di desa tersebut. Keduanya adalah buruh tani dengan penghasilan yang pas-pasan. Kondisi rumah mereka telah membahayakan keselamatan penghuni – atap bocor, dinding retak, lantai rapuh. Lebih memilukan, Fikri juga pernah dirawat di RSUD Curup karena cacingan, stunting, dan menderita cerebral palsy (CP).
Dalam suasana yang menyentuh, Bupati Fikri hadir dengan membawa bantuan dari program Bedah Rumah Baznas. Bantuan ini menjadi angin segar di tengah kelesuan harapan. Tak hanya itu, akses kesehatan juga mendapat perhatian: biaya pengobatan disiapkan agar Fikri bisa mendapatkan perawatan terbaik tanpa harus dihantui kekhawatiran biaya yang membebani.
Kisah 2: Nazwa Nazira – Jantung Bocor, Langkah Menuju Kesembuhan
Di sisi lain, ada keluarga dari Nazwa. Gadis kecil berusia lima tahun itu tengah bersiap melakukan pengobatan di RS Harapan Kita, Jakarta, untuk menangani penyakit jantung bocor yang dideritanya. Keluarga sederhana ini tinggal di desa yang sama, dan perjuangan mereka selama ini kerap tanpa sorotan.
Beberapa hari sebelum penyerahan bantuan, Bupati Fikri bersama Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Rejang Lebong, Ny. Intan Larasita Fikri, telah mendatangi rumah Nazwa. Di sanalah tampak wajah ibu – menahan tangis haru, dan ayah yang berusaha tegar meski hatinya mencucurkan harapan. Dalam dekapan pelukan ibu, Nazwa duduk tenang, tak tahu pasti seberapa besar harapan yang kini mengular di depan matanya.
Saat itu, Bupati Fikri berjanji
“Kami akan mendampingi pengobatan Nazwa hingga tuntas, termasuk membantu fasilitasi transportasi ke RS Harapan Kita.”
Dalam ucapannya nanti, Bupati juga menyematkan harapan
“Insyaallah Nazwa bisa sembuh dan tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya.”
Kolaborasi & Komitmen: Bukan Sekadar Janji
Penyaluran bantuan ini bukanlah inisiatif tunggal, melainkan cerminan kerja sama antara Baznas Kabupaten Rejang Lebong, Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda, Dinas Kesehatan, dan pemerintah desa setempat.
Bupati Fikri menekankan bahwa syarat penting agar bantuan berjalan lancar ialah koordinasi yang baik. Menurutnya, banyak kasus pasien yang terlambat dirujuk karena dokumen belum lengkap atau prosedur belum dipersiapkan dengan matang. Oleh karena itu, sinergi antara desa, kabupaten, dan lembaga keagamaan/amal sangat krusial.
Sementara itu, Wabup Hendri Praja dengan tegas menyampaikan:
“Kami berharap adik Nazwa segera pulih. Pemkab akan terus memantau proses pengobatannya bersama Baznas dan dinas terkait.”
Dalam nada yang lembut namun penuh makna, Wabup Hendri menambahkan bahwa kehadiran pemerintah bukanlah sekadar untuk dipandang oleh kamera, melainkan untuk dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai sahabat di kala susah.
Suara Hati Warga: Antara Harapan dan Doa
Ketika Bupati dan Wabup hadir, tetangga dan perangkat desa berkumpul. Mereka tidak datang untuk minta sesuatu, melainkan untuk memberikan dukungan moral, turut merasakan dan menyaksikan bahwa pemerintah hadir di sana. Seorang Kepala Desa mengungkapkan,
“Bantuan ini bukan hanya materi, tapi juga perhatian dan semangat. Kami merasa tidak sendiri karena pemerintah hadir langsung di tengah masyarakat.”
Di depan rumah Fikri dan rumah Nazwa, suasana terasa sakral. Langkah kaki teredam di tanah, senyuman terpaksakan demi menahan air mata. Namun, dalam bisikan doa tiap orang yang hadir, tergantung satu harapan: agar si kecil bisa tertawa tanpa takut, agar rumah yang pernah bocor itu cepat menjadi tempat perlindungan yang layak, agar penderitaan kecil ini punya babak baru yang lebih cerah.
Pembangunan yang Menyentuh Hati
Di era ketika pembangunan sering diukur dari beton dan aspal, kisah di Tanjung Beringin ini menghadirkan refleksi penting: bahwa pembangunan sejati juga adalah ketika pemerintah mampu menyentuh hati, meresapi penderitaan rakyat, dan berdiri bersama mereka di saat mereka lemah.
Bupati Fikri dan Wabup Hendri Praja telah memberi contoh bahwa kursi pemerintahan bukan semata untuk memimpin dari balik meja, melainkan untuk meraba, merasakan, dan bekerja dari barisan paling depan. Dengan doa dan dukungan dari banyak pihak – Baznas, YJI, desa, dan masyarakat – semoga harapan-harapan kecil di hati dua keluarga itu segera menjadi kenyataan.
Dan semoga kehadiran mereka menjadi inspirasi bahwa setiap langkah dari pemerintah, sekecil apa pun, bisa menjadi pelita di tengah gelapnya kesulitan rakyat. (**)
Editor: Redaksi










